“Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand
Read more