共有

Bab 291

作者: QueenShe
last update 公開日: 2026-07-14 19:36:59

“Mas, ada apa?” tanya Hania, ikut mendekat ke arah Prana yang panik hendak mengejar Shanum. “Kenapa?”

“Titip dulu Mama, Han. Aku ke bawah sebentar,” potong Prana cepat, berbalik, berlari menuju lift.

Hania menghela napas lelah, berdiri mematung memegangi dua cup kopi yang mulai dingin, menatap punggung Prana hilang di balik pintu lift.

Prana terus menekan tombol lantai dasar. Begitu pintu terbuka di lobi, ia berlari keluar menuju area drop-off, matanya memindai deretan mobil. Tepat di dekat pem
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
capek jg jd Shanum. mending pergi jauhlah, sendiri dulu mnyepi. toksik semua orng2 sekelingnya..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 299

    “Siapa yang kasih tahu kamu?” tanya Ani sinis, meski Shanum bisa menangkap ada getaran dalam suara ibunya.“Gak penting siapa yang kasih tahu aku, Bu,” kata Shanum, berdiri dari kursinya agar posisinya sejajar dengan Ani. “Yang jelas, sekarang aku udah tahu. Aku sama Mas Prana gak sedarah. Jadi kita berdua gak masalah kalau bersama.”“Kamu ini... benar-benar anak kurang ajar!” desis Ani, giginya terkatup rapat menahan amarah yang siap meledak lagi. “Kamu sengaja mau sama Prana, biar bisa mempermalukan Ibu di depan Ralin?”Shanum menyipitkan matanya tak mengerti dengan pola pikir ibunya.“Siapa yang mau mempermalukan Ibu? Aku cuma mau hidup tenang bersama orang yang aku cintai,” ucap Shanum, sorot matanya tak lagi menunjukkan ketakutan seperti tadi siang.“Aku sudah menuruti kemauan Ibu untuk menikah dengan Fadil dulu, dan hidupku hancur. Sekarang, tolong biarkan aku menentukan jalanku sendiri,” tambah Shanum.Ani terkekeh sinis, menyembunyikan kepanikannya di balik topeng kemarahan.“

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 298

    “Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, Ra? Ibu pasti bakal ngamuk, dan kondisi Ayah sekarang lagi gini. Apa aku gak egois?”“Gak usah mikirin mereka, Mbak,” tukas Tiara ketus. Ada nada kekecewaan yang mendalam saat membahas orang tua mereka.“Kalau Mbak tetap mikirin mereka, selamanya Mbak gak bakalan bahagia. Mbak udah ngalah menuruti kemauan Ayah dan Ibu dengan menikah. Sekarang lihat hasilnya?”Shanum menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Tiara menghantam logikanya.“Mereka yang menanam benih masalah ini di masa lalu, Mbak. Mereka be

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 297

    “Fadil? Buat apa dia bahas Mama?” Mendengar nama Fadil, Prana melepaskan pelukannya. Kedua matanya berubah lebih tajam. “Apa yang dia bicarakan?”Shanum menyeka pipinya dengan punggung tangan. “Sebenarnya dulu ceweknya Fadil pernah datang ke rumah, ngasih flashdisk. Di sana ada bukti Fadil selingkuh, terus ada rekaman obrolan dia sama teman dia bahas soal Ayah.”Prana mendengarkan dengan seksama, alisnya bertaut rapat.“Di rekaman itu,” Shanum menelan ludah, dadanya naik turun mengumpulkan keberanian. “Fadil bilang kalau Ayah selama ini sebenarnya miskin sama mendompleng hidup.”“Terus?”“Ayah katanya merebut warisan wanita lain. Makanya Ayah bisa jadi seperti sekarang. Ini juga yang jadi alasan kenapa Ayah gak bisa lepas dari keluarga mereka, soalnya yang membantu Ayah dan Ibu mengambil harta warisan itu ayah Fadil.”Shanum menatap Prana dengan pandangan memohon, menuntut kebenaran yang selama ini tertimbun rapi. “Apa benar, Mas? Warisan wanita lain yang dimaksud itu... milik Tante R

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 296

    “Maksud Mas gimana?” tanya Shanum mencari kepastian, begitu makanan yang mereka pesan sudah habis dilahap.Tadi sebelum menjelaskan, Prana memang bersikeras ingin Shanum menghabiskan makanannya dulu. Kalau tak, ia mengancam tak akan membuka suara. Terpaksa Shanum menuruti perintah itu meski setiap suapan terasa mengganjal di tenggorokannya.“Kalau Mas anak Ayah, berarti kita adik kakak, Mas,” cecar Shanum lagi, menuntut jawaban yang sejak tadi menggantung di udara.“Sayangnya… aku memang anak Pak Tua.” Prana menyandarkan punggungnya di kursi besi kantin rumah sakit. “Tapi kamu bukan.”“Maksudnya?” Wajah Shanum seketika pucat. Tangannya yang dingin terasa semakin dingin. Ia tahu penjelasan Prana selanjutnya pasti akan jauh lebih mencengangkan dan menjungkirbalikkan sisa kewarasannya.“Kita bukan saudara kandung, Sayang. Kamu bukan adik aku,” ucap Prana, sepasang matanya menatap Shanum lurus.“Jadi maksud Mas... Ayah bukan ayah kandung aku?”Prana melihat perubahan wajah Shanum yang san

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 295

    “Semua yang Mbak dengar itu salah paham,” ucap Tiara begitu mereka berada di sudut lorong sepi yang tak dilewati siapa pun.Shanum menatap Tiara dengan pandangan tak percaya. “Apanya yang salah paham, Ra? Jelas-jelas aku dengar apa yangTante Ralin bilang tadi.”Tiara menarik napas dalam, memantapkan diri sebelum berbicara. “Memang benar Mas Prana, putra dari ayah kita. Mas Prana itu anak kandung Ayah.”Kata-kata Tiara barusan menjadi pukulan telak yang menghantam telinga Shanum. Rasa jijik yang tadinya sempat mereda kini kembali menyelimuti seluruh tubuhnya, bahkan terasa berkali-kali lipat lebih pekat. Kepalanya mendadak pening, membayangkan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Prana.“Kamu... kamu sudah tahu soal itu dari kapan, Tiara?” tanya Shanum menuntut, dan ada kemarahan mulai menyelinap di antara rasa syoknya.“Waktu Mbak Num mau nikah sama Mas Fadil,” jawab Tiara, menundukkan pandangannya. “Mas Prana datang ke rumah. Aku curi dengar pas Ayah sama Mas Prana berantem heb

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 294

    “Henti jantung?” gumam Shanum. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, memicu langkah kakinya untuk berlari lebih cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang intensif. Di ujung selasar, tepat di depan pintu kaca besar bertuliskan 'ICU', ia melihat Tiara terduduk di kursi panjang dengan bahu yang naik turun, menangis sesenggukan.“Tolong bertahan, Ayah,” bisik Shanum dalam hati, mempercepat langkahnya.Shanum langsung menghampiri adiknya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tanpa memedulikan penampilannya. Ia memegang kedua lengan Tiara dengan erat. “Tiara! Ayah mana, Ra? Sekarang Ayah gimana?”Tiara mendongak, wajahnya sudah basah kuyup oleh air mata. Menatap sang kakak, ia mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. “Mbak Num... Ayah sempat gagal napas di rumah. Untung ada Mas Prana yang langsung ambil tindakan, Mbak. Kalau gak ada dia, mungkin Ayah...”Kalimat Tiara terputus oleh tangisnya yang kembali pecah. Sebelum Shanum sempat menanyakan kronologi lebih jauh, sebuah s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 53

    Shanum terengah, punggungnya menekan daun pintu kayu yang dingin saat Prana terus mengikis jarak di antara mereka. Tubuh pria itu seolah mengepung seluruh inderanya, menciptakan sekat yang memisahkan Shanum dari kenyataan pahit di luar sana.“Kamu... kenapa kamu bisa ada di sini?” tuduh Shanum, sua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 51

    “Mbak... Mbak Shanum langsung ke kamar saja ya, pelan-pelan,” bisik Mbok Yah dengan suara bergetar sesaat Shanum memasuki rumah. “Pak Fadil sudah pulang dari tadi, Mbak. Sepertinya sedang marah besar.”Shanum mengernyitkan dahi. Di kepalanya, suara Fadil di telepon tadi masih terngiang—tenang, data

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 47

    “Kenapa kamu di luar?” tanya Shanum heran. “Apa yang terjadi?”Shanum dikejutkan oleh Tiara yang langsung menjegalnya tepat di depan pintu ruang rawat ayahnya. Wajah adiknya yang biasanya ceria kini tampak tegang, bahkan cenderung dingin.“Mbak Num!”Tanpa basa-basi, Tiara menyodorkan layar ponsel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 45

    Depan pintu ruang VIP, Shanum berhenti sejenak merapikan kerah turtle necknya sekali lagi, Memastikan concealer menutupi bekas kemerahan di lehernya, lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, berharap sisa rasa dari ciuman Prana benar-benar telah pudar.Ia menarik napas panjang, mencoba menata

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status