“Turunlah. Aku ada urusan lagi di kantor. Jangan kemana-mana lagi,” perintah Fadil begitu mobil mewah itu berhenti di depan gerbang rumah, Fadil bahkan tidak mematikan mesinnya.Shanum turun tanpa menoleh atau sepatah kata pun. Begitu mobil Fadil melesat pergi, ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Baru saja melangkah masuk melalui pintu utama, Mbok Yah sudah menunggunya dengan wajah gelisah. Wanita tua itu berkali-kali meremas ujung celemeknya.“Mbak Shanum... akhirnya pulang,” bisik Mbok Yah pelan, matanya melirik ke arah ruang tamu.Shanum mengernyit, merasa ada yang tidak beres. “Ada apa, Mbok?”“Anu, Mbak… ada tamu yang mau ketemu Mbak Shanum. Udah nunggu hampir satu jam,” jawab Mbok Yah sedikit berbisik.“Tamu? Siapa? Teman Mas Fadil?” tanya Shanum bingung. Biasanya, tamu yang datang ke rumah ini adalah kolega bisnis Fadil, dan jarang sekali ingin menemuinya secara pribadi.Mbok Yah menggeleng cepat. “Gak tahu, Mbak. Perempuan, katanya ada p
Read more