INICIAR SESIÓN“Kenalin, ini menantu saya. Istri Prana.”Ralin melontarkan kalimat itu dengan santai. Sama sekali tak ada keraguan dalam pengumuman tersebut.Sebaliknya, suasana ruang privat restoran tempat arisan berlangsung langsung hening seketika. Belasan wanita seumuran Ralin yang semula sibuk mengobrol serempak menoleh ke arah pintu masuk.“Eh?”“Menikah?”“Prana sudah menikah?”“Serius, Jeng? Kapan?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir bersamaan dan saling tumpang tindih. Shanum yang berdiri di samping ibu mertuanya hanya memberikan respons berupa senyuman canggung.Salah seorang ibu bersasak tinggi bahkan sampai meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan meja.“Kirain Prana sama Hania masih...” Wanita itu sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan pandangannya meluncur ke ujung meja.Semua pasang mata di ruangan itu otomatis mengikuti arah pandangannya. Lastri duduk tegak di sana.Wanita paruh baya itu sejak tadi memang irit bicara. Raut wajahnya terpoles senyum tipis, tetapi kilat mat
“Kamu nikmati aja, Sayang, biasanya ibu hamil justru lebih bergairah dibandingkan biasanya,” bisik Prana tepat di dekat telinga istrinya dengan suara serak.Mendengar godaan itu, Shanum langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain karena malu. Tapi ia tak melawan saat Prana bergerak menurunkan celana piyamanya secara perlahan.“Siap, Sayang?” tanya Prana sekali lagi, meminta persetujuan meski sorot matanya sudah dikuasai penuh oleh hasrat.Shanum menelan ludahnya susah payah. Napasnya mulai memburu, berkejaran dengan detak jantung yang bergemuruh di dalam dada. Ia perlahan mengangguk kecil sebagai tanda pasrah sekaligus menyerahkan diri sepenuhnya.Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Prana tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh penghayatan.Lidah Prana menyapu rongga mulut Shanum, mengecap manis yang selalu berhasil membuatnya hilang kendali. Shanum me
“Mas... aku gak mimpi, kan?”Prana yang baru saja meletakkan ponsel di atas nakas langsung menoleh ke arah ranjang. Suasana kamar yang temaram memperlihatkan binar terang di mata istrinya.“Kenapa, Sayang?”Shanum merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan antusias, sisa air matanya masih meninggalkan jejak basah di pipi.“Kamu mimpi apa?” tanya Prana penasaran, tersenyum kecil melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.Shanum menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan senyum lebar.“Tante... eh, maksud aku, Mama... benar-benar nerima aku?”“Iya, Sayang. Kamu gak salah dengar.” Prana terkekeh pelan, mengikis jarak di antara mereka.“Beneran?”“Kan tadi kamu dengar sendiri.”Shanum menggigit bibirnya ragu. “Bukan karena aku hamil, kan?”“Bukan, Sayang,” jawab Prana tegas, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.Shanum masih menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencari celah keraguan di sana. “Serius?”Prana yang mengerti betul ketidakpastian di hati istriny
"Gimana sekarang, masih mual?"Suara Ralin memecah keheningan meja makan. Shanum spontan mengangkat wajah dari piringnya, baru saja menyuap beberapa suap nasi."Masih dikit, Tante," jawab Shanum pelan.Ralin mengangguk. "Pusing?""Udah agak mendingan.""Perutnya sakit?"Shanum menggeleng. "Enggak."Tanpa diduga, Ralin mengulurkan tangan, mengambil sepotong lauk dari mangkuk tengah meja, memindahkannya ke piring Shanum. Gerakan itu membuat Shanum terbelalak, begitu pula Prana yang langsung berhenti mengunyah."Kalau nanti mual lagi, jangan dipaksain makan," lanjut Ralin datar tapi peduli. "Istirahat dulu, cari makanan yang enak di perut kamu.""Iya, Tante," balas Shanum lirih.Prana yang duduk di sampingnya mengulum senyum tipis. Sejak tadi ia diam-diam mengamati perubahan drastis sikap ibunya. Meski Ralin tetap bicara singkat dan tegas, sudah tak ada lagi sindiran tajam atau tatapan sinis untuk Shanum.Rali
“Pran, jelasin,” Ralin berhenti sebentar. “Mama mau tahu, apa Ani memang selalu begitu sama anaknya?”Di sofa ruang tengah, Ralin menatap lurus ke Prana yang duduk di seberang. Prana tak langsung menjawab, mengembuskan napas berat.“Pran,” panggil Ralin, matanya menyipit tajam.“Iya, Ma,” sahut Prana akhirnya.Jawaban singkat itu membuat raut Ralin kaku. “Sering kayak gitu?”“Kurang lebih begitu.”Ralin bersandar ke sofa, mencerna jawaban putranya yang tenang tapi menyiratkan kepahitan pekat.“Separah apa?” tanya Ralin, penasarannya mendesak untuk tahu apa saja yang sudah ditelan menantunya bertahun-tahun. “Mama tahu kelakuan Ani dari dulu. Dia bakal menekan siapa pun yang ngehalangin dia. Kirain sama anaknya gak begitu.”“Sama Shanum lebih parah.”“Contohnya?”Prana mengangkat wajah, menatap lan
“Ma, kita pulang, Ma. Gak ada untungnya berdebat sama mereka di sini.”Prana menghalangi tubuh Ralin yang berniat maju menghadapi Ani lebih dekat, menahan pundak ibunya dengan kedua tangan.Ralin mendengus keras, dadanya masih naik turun menahan emosi. “Dia itu udah kelewatan ngatain anaknya sendiri sembarangan, Prana! Kasar banget mulutnya!”“Iya, tapi tempat ini bukan arena buat adu mulut,” balas Prana tegas, meredam situasi agar tak makin runyam di hadapan umum.Bersamaan dengan itu, Bobby melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ani, menatap istrinya dengan kejengkelan.“Bu, sudah cukup, kamu keterlaluan!” tegas Bobby.Ani menoleh cepat, matanya membelalak. “Kamu malah marahin aku, Yah? Kamu gak lihat Shanum ngelawan Ibu?”“Ibu yang bikin malu keluarga dari tadi!” potong Bobby tanpa ampun. “Udah tua masih suka bikin keributan!”Mendengar per
“Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua







