Share

Bab 43

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-19 17:38:50

“Mas, turunin! Aku harus pulang, aku tidak bisa di sini lebih lama lagi,” desak Shanum saat Prana mengangkat tubuhnya dengan begitu mudah. Handuk kering yang membungkus tubuhnya terasa kasar di kulitnya yang masih basah, kontras dengan sentuhan lengan Prana yang kokoh.

“Tidak ada yang pergi ke mana pun, Shanum,” ucap Prana mutlak.

Langkah kakinya mantap, membawa Shanum keluar dari uap hangat kamar mandi menuju ranjang besar yang masih berantakan.

“Tidurlah di sini. Biar aku tenang, aku harus me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 363

    “Kamu nikmati aja, Sayang, biasanya ibu hamil justru lebih bergairah dibandingkan biasanya,” bisik Prana tepat di dekat telinga istrinya dengan suara serak.Mendengar godaan itu, Shanum langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain karena malu. Tapi ia tak melawan saat Prana bergerak menurunkan celana piyamanya secara perlahan.“Siap, Sayang?” tanya Prana sekali lagi, meminta persetujuan meski sorot matanya sudah dikuasai penuh oleh hasrat.Shanum menelan ludahnya susah payah. Napasnya mulai memburu, berkejaran dengan detak jantung yang bergemuruh di dalam dada. Ia perlahan mengangguk kecil sebagai tanda pasrah sekaligus menyerahkan diri sepenuhnya.Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Prana tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh penghayatan.Lidah Prana menyapu rongga mulut Shanum, mengecap manis yang selalu berhasil membuatnya hilang kendali. Shanum me

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 362

    “Mas... aku gak mimpi, kan?”Prana yang baru saja meletakkan ponsel di atas nakas langsung menoleh ke arah ranjang. Suasana kamar yang temaram memperlihatkan binar terang di mata istrinya.“Kenapa, Sayang?”Shanum merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan antusias, sisa air matanya masih meninggalkan jejak basah di pipi.“Kamu mimpi apa?” tanya Prana penasaran, tersenyum kecil melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.Shanum menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan senyum lebar.“Tante... eh, maksud aku, Mama... benar-benar nerima aku?”“Iya, Sayang. Kamu gak salah dengar.” Prana terkekeh pelan, mengikis jarak di antara mereka.“Beneran?”“Kan tadi kamu dengar sendiri.”Shanum menggigit bibirnya ragu. “Bukan karena aku hamil, kan?”“Bukan, Sayang,” jawab Prana tegas, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.Shanum masih menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencari celah keraguan di sana. “Serius?”Prana yang mengerti betul ketidakpastian di hati istriny

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 361

    "Gimana sekarang, masih mual?"Suara Ralin memecah keheningan meja makan. Shanum spontan mengangkat wajah dari piringnya, baru saja menyuap beberapa suap nasi."Masih dikit, Tante," jawab Shanum pelan.Ralin mengangguk. "Pusing?""Udah agak mendingan.""Perutnya sakit?"Shanum menggeleng. "Enggak."Tanpa diduga, Ralin mengulurkan tangan, mengambil sepotong lauk dari mangkuk tengah meja, memindahkannya ke piring Shanum. Gerakan itu membuat Shanum terbelalak, begitu pula Prana yang langsung berhenti mengunyah."Kalau nanti mual lagi, jangan dipaksain makan," lanjut Ralin datar tapi peduli. "Istirahat dulu, cari makanan yang enak di perut kamu.""Iya, Tante," balas Shanum lirih.Prana yang duduk di sampingnya mengulum senyum tipis. Sejak tadi ia diam-diam mengamati perubahan drastis sikap ibunya. Meski Ralin tetap bicara singkat dan tegas, sudah tak ada lagi sindiran tajam atau tatapan sinis untuk Shanum.Rali

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 360

    “Pran, jelasin,” Ralin berhenti sebentar. “Mama mau tahu, apa Ani memang selalu begitu sama anaknya?”Di sofa ruang tengah, Ralin menatap lurus ke Prana yang duduk di seberang. Prana tak langsung menjawab, mengembuskan napas berat.“Pran,” panggil Ralin, matanya menyipit tajam.“Iya, Ma,” sahut Prana akhirnya.Jawaban singkat itu membuat raut Ralin kaku. “Sering kayak gitu?”“Kurang lebih begitu.”Ralin bersandar ke sofa, mencerna jawaban putranya yang tenang tapi menyiratkan kepahitan pekat.“Separah apa?” tanya Ralin, penasarannya mendesak untuk tahu apa saja yang sudah ditelan menantunya bertahun-tahun. “Mama tahu kelakuan Ani dari dulu. Dia bakal menekan siapa pun yang ngehalangin dia. Kirain sama anaknya gak begitu.”“Sama Shanum lebih parah.”“Contohnya?”Prana mengangkat wajah, menatap lan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 359

    “Ma, kita pulang, Ma. Gak ada untungnya berdebat sama mereka di sini.”Prana menghalangi tubuh Ralin yang berniat maju menghadapi Ani lebih dekat, menahan pundak ibunya dengan kedua tangan.Ralin mendengus keras, dadanya masih naik turun menahan emosi. “Dia itu udah kelewatan ngatain anaknya sendiri sembarangan, Prana! Kasar banget mulutnya!”“Iya, tapi tempat ini bukan arena buat adu mulut,” balas Prana tegas, meredam situasi agar tak makin runyam di hadapan umum.Bersamaan dengan itu, Bobby melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ani, menatap istrinya dengan kejengkelan.“Bu, sudah cukup, kamu keterlaluan!” tegas Bobby.Ani menoleh cepat, matanya membelalak. “Kamu malah marahin aku, Yah? Kamu gak lihat Shanum ngelawan Ibu?”“Ibu yang bikin malu keluarga dari tadi!” potong Bobby tanpa ampun. “Udah tua masih suka bikin keributan!”Mendengar per

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 358

    “Ayahmu masih belum sembuh sepenuhnya, kamu malah bersenang-senang sama orang lain!” cecar Ani penuh amarah.“Bu—”“Kalau ngomong jangan sembarangan, ya!” potong Ralin, memotong ucapan Shanum.Wanita paruh baya itu tak tinggal diam. Dilewatinya Prana yang berdiri tepat di samping Shanum. Ralin memajukan tubuh menghadapi Ani langsung.Prana bergerak cepat, mencengkeram lengan ibunya, menariknya mundur perlahan.“Ma, sudah. Gak usah dilayanin,” bisik Prana mendesak.Ia tahu persis watak keras ibunya kalau sudah tersulut emosi. Tapi Ralin tak terima, mendelik tajam ke Ani, menepis tatapan Prana.“Mbak Ralin, gak usah ikut campur urusan saya dengan anak saya!” maki Ani, menunjuk wajah Shanum. “Dia anak kandung saya, Mbak orang luar gak usah ikut-ikutan!”Dada Ralin naik turun. Ucapan itu menembus batas kesabarannya yang tipis.“Siapa bilang saya orang luar?” bentak Ralin balik, menepis tangan Prana dari lengannya kasar.“Anak yang kamu maki-maki di depan orang banyak ini sekarang menantu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 1

    “Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 214

    “Kenapa datang-datang muka udah kayak baju kagak disetrika?” tanya Hendra—sahabat Prana sekaligus pengacara Shanum—sambil menyimpan dua gelas kopi di atas meja tamu kantornya.Prana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lelah. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu setelah menemui Ralin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 160

    Lutut Fadil menghantam lantai dengan keras. Pria itu menundukkan kepala sangat dalam, badannya bergetar, dan sedetik kemudian terdengar suara isakan. Fadil tampak menangis, menyesali perbuatannya dengan begitu meyakinkan di depan mertuanya.“Ayah, Ibu... saya mohon ampun,” ucap Fadil sesenggukan, a

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 101

    Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status