"Kau... hamil, Ivy?" tanya Viko, suaranya mendadak merendah hingga menyerupai bisikan yang teramat dingin.Cengkeraman tangan Viko di bahu Ivy perlahan terlepas, bukan karena ia merasa iba, melainkan karena rasa syok yang menjalar ke seluruh sarafnya. Tatapan matanya yang semula dipenuhi amarah, kini berubah menjadi sorot mata yang kosong, tajam, dan penuh dengan kalkulasi licik.Ivy Davina mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, mengangguk perlahan sambil terus meremas ujung bajunya. "Usia kandunganku baru jalan lima minggu, Viko. Aku sangat takut... itu sebabnya aku panik saat Ganza mengancamku dengan foto-foto kita."Viko membalikkan tubuhnya membelakangi Ivy, berjalan perlahan menuju jendela kamar hotel yang menampilkan pemandangan jalanan sekunder. Sisi hangat yang selama enam bulan ini ia pamerkan di depan Ivy seketika menguap, digantikan oleh watak aslinya yang egois dan manipulatif.Bagi Viko, kehamilan Ivy bukanlah sebuah anugerah, melainkan sebuah cacat bes
อ่านเพิ่มเติม