Langkah balas dendam tidak selalu harus diawali dengan ledakan. Bagi Vani Adam, kehancuran yang paling indah adalah kehancuran yang merayap perlahan, merusak fondasi korbannya tanpa mereka sadari sampai semuanya sudah terlambat untuk diselamatkan.Siang itu, Vani melangkah masuk ke dalam restoran privat. Di meja sudut, seorang pria paruh baya berpenampilan karismatik menyambutnya dengan senyuman hangat. Pria itu adalah Tuan Haris Wijaya, pemilik Wijaya Cyber Infrastructure, Perusahaan raksasa penyedia pusat data terbesar di Indonesia sekaligus sahabat lama mendiang ibu Vani."Vani, sudah lama sekali. Aku turut prihatin dengan apa yang menimpa ayahmu," ucap Tuan Haris tulus, mempersilakan Vani duduk.Vani tersenyum tipis, memancarkan ketenangan yang anggun. "Terima kasih, Om Haris. Tapi hidup harus terus berjalan. Justru hari ini, Vani datang untuk membicarakan sebuah peluang bisnis yang sangat menarik untuk Wijaya Infrastructure."Tuan Haris menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Oh
อ่านเพิ่มเติม