Suara detak jam dinding di ruang kontrol bunker seolah berdentum sekeras palu di telinga Nuri. Bambang berdiri tegak, matanya yang setajam elang kini terpaku pada syal yang melilit erat di leher Nuri. Kecurigaan yang disulut oleh teriakan Vani kini mulai membakar nalar sehatnya. "Buka tasmu, Nuri!"perintah Bambang. Suaranya dingin, datar, dan tidak menerima bantahan. Nuri tertawa getir, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi gemuruh di dadanya. "Bambang, kau benar-benar akan mendengarkan ocehan anak kecil yang sedang histeris ini? Aku di sini mempertaruhkan nyawaku untuk membantumu, dan ini balasanmu? Kau bahkan tidak percaya padaku? Aku sung—" "Jika kau tidak menyembunyikan apa pun, kau tidak akan keberatan, bukan?" Vani menyela, langkahnya semakin mendekat hingga ia bisa mencium aroma parfum Nuri yang masih menyisakan jejak asing. "Ayo, Nuri. Buka tasmu, atau lepaskan syal itu. Biarkan Papa melihat apa yang kau sembunyikan di balik sana!" Vani mendesak. "Cukup, Vani!"
Leer más