Lampu-lampu kota Jakarta berkelip laksana hamparan permata di balik dinding kaca tebal unit penthouse. Di dalam ruangan yang kini hanya diterangi oleh lampu meja yang temaram, Ivy duduk bersandar pada sofa, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia telah mengganti kemejanya dengan sweter wol longgar, mencari kenyamanan setelah semalaman energinya terkuras habis dalam penyatuan yang begitu intens bersama Viko. Viko berjalan mendekat, langkah kakinya yang tegap terdengar mantap di atas lantai marmer. Ia berdiri di belakang sofa, lalu menundukkan kepala untuk mengecup pelipis Ivy dengan kelembutan. "Masih memikirkan Hendra?" tanya Viko, di dekat telinga Ivy. Ivy mendongak, menatap Viko yang kini memancarkan aura perlindungan. "Aku hanya berpikir betapa cepatnya situasi berubah, Viko. Kemarin kita terjebak dalam pelarian, dan sekarang kita berada di pusat Jakarta, bersiap memancing singa tua itu masuk ke perangkap kita." Viko tersenyum tipis, sebuah ekspresi dingin terpancar dari
Baca selengkapnya