Pendaran lampu gantung yang temaram memantulkan siluet kaku dari tiga pria yang kini berdiri di atas papan catur metropolitan yang kian berdarah. Viko berdiri dengan keanggunan seorang predator tertinggi, kedua tangannya terlipat di depan dada bidangnya yang dibalut kemeja merah maroon premium. Tatapan matanya yang hitam legam memancarkan kilatan kejam yang luar biasa dingin, menatap lurus ke arah Ganza yang masih memegang laptop dinas milik Randi Kurniawan. Di belakang Viko, dua operator siber internal dari Sudirman Group berdiri laksana robot tanpa ekspresi, masing-masing memegang ponsel yang layarnya terus berkedip, mengunci seluruh sinyal digital di dalam ruangan tersebut agar berada di bawah kendali mutlak sang manipulator tertinggi. "Viko," Ganza bersuara terlebih dahulu, suaranya mengalun rendah, kaku, namun tetap mempertahankan wibawa penuh sebagai tangan kanan terkuat yang tidak bisa ditekan begitu saja. "Aku sedang mengeksekusi pemusnahan data Baskoro secara manual s
더 보기