Bercak darah suci Meli mengalir perlahan, membasahi sprei katun putih di bawah pinggul mereka, menjadi saksi bisu runtuhnya kepolosan sang gadis. Namun, di balik rasa sakit ngilu yang menjalar, wajah Meli memancarkan kepuasan mutlak akibat ukuran pusaka Ganza yang luar biasa kokoh mengunci rahimnya. "Goyang lagi, sayang... aku milikmu sekarang... seutuhnya..." ucap Meli dengan tatapan mata yang teramat pasrah dan penuh cinta. Ganza menggerakkan kembali pinggul atletisnya, merasakan jepitan yang begitu legit dan ketat dari liang madu Meli yang mengunci pergerakannya. Meli merasakan rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan tiada tara, memicu pekikan-pekikan manis di sepanjang dinding kamar yang sepi. Ganza mengencangkan goyangannya menjadi ritme yang luar biasa dahsyat. Dengan satu sentakan kuat yang terakhir, seluruh cairan madu kental Ganza melesak, membanjiri bagian terdalam dari sirkulasi rahim Meli. "Ahh! Ganza!" Meli mendesah panjang, tubuh mungilnya bergetar heba
Leer más