Kereta Commuter Line tujuan Jakarta Kota itu tersentak hebat saat meninggalkan peron Stasiun Bogor. Tubuh-tubuh manusia di dalamnya terayun mengikuti hukum inersia, saling bertumbukan tanpa permisi. Iis terlempar ke depan, dadanya yang hanya terbalut jaket bomber tipis menghantam dada bidang Jarwo yang sekeras papan kayu. Bau keringat masam dan tembakau murah dari kaus Jarwo menyengat indra penciumannya, namun sistem di dalam tubuh Iis mengubah rasa mual itu menjadi lonjakan adrenalin yang memabukkan. "Eits, hati-hati, Neng. Licin ya lantainya? Sini, Mas Jarwo pegangin biar nggak jatuh lagi." Jarwo tidak sekadar memegang. Lengan besarnya yang dipenuhi tato ular itu melingkar di pinggang Iis, menariknya begitu rapat hingga tak ada celah udara di antara mereka. Di belakang Iis, salah satu anak buah Jarwo yang berambut jabrik menempelkan tubuhnya dengan sengaja. Iis merasa terjepit di antara dua gunung daging yang panas. "Mas... sesak... tolong jangan terlalu rapat..." "Sesak itu e
Last Updated : 2026-05-24 Read more