Ajeng sekali lagi mengangguk setelah mendengar perintahku. Wajahnya yang resah berganti menatap mereka satu per satu—si pria besar di depan, si kurus bertato di kanan, si brewok di kiri. Dia menggigit bibirnya lagi, kali ini lebih lama, lalu memulai aksinya."Jadi... jadi... mobilnya di mana ya, Pak? Boleh saya lihat langsung?" tanyanya dengan suara yang dibuat lebih manja dan ragu. Dia merapatkan kedua tangannya di depan dada, gerakan lugu yang justru membuat belahan payudaranya semakin mengintip jelas.Si pria besar menyeringai lebar. "Oh, boleh banget, Neng. Mobilnya ada di belakang. Sini saya anterin.""Tapi sebelum itu," potong si kurus, "Neng mau minum dulu? Air es atau teh manis? Saya bisa ambilin di warung sebelah. Siapa tau Neng capek habis perjalanan jauh.”"A-
Read more