Hari yang dinanti akhirnya tiba. Ruang sidang yang kumasuki bersama Rahmi itu terasa dingin. Bukan hanya oleh pendingin udara yang menderu pelan dari langit-langit, tapi juga oleh atmosfer yang menusuk tulang begitu aku melangkah masuk bersama Rahmi di sisi kananku.Mataku menyapu ruangan—meja-meja kayu berlapis veneer tua, kursi-kursi berderet seperti bangku gereja, dan di depan sana, di balik podium tinggi berlapis kain merah hati, Yudha duduk dengan toga hitam yang membungkus tubuhnya.Rahmi menggenggam lenganku. Jemarinya yang mungil mencengkeram kemejaku erat-erat, dan aku bisa merasakan getaran kecil di ujung jemarinya."Tenang," bisikku tanpa menoleh. "Kita di sini cuma buat nonton.""Iya, Kak Bima," jawabnya lirih, tapi genggamannya tidak mengendur.Kami memilih bangku di baris ketiga. Rahmi duduk di sebelahku, dan Monica—yang sudah menungguku di lobi sejak setengah jam lalu—kini melangkah masuk dan duduk di sebelah kiri Rahmi. Rok pensil abu-abu dan blazer hitam membuatnya ta
Read more