Koridor gedung fakultas siang itu lengang. Hanya suara langkahku yang menggema pelan di lantai marmer mengkilap, berpadu dengan dengung AC dari langit-langit. Mataku menatap lurus ke ujung koridor, ke sebuah pintu kayu jati dengan plakat emas bertuliskan nama Monica.Tok tok tok. Aku mengetuk tiga kali. "Masuk." Suara dari dalam terdengar dingin, formal, penuh wibawa seorang dosen senior. Gagang pintu kuputar. Begitu sosokku muncul di ambang pintu, perubahan drastis terjadi pada wajah Monica. Mata almondnya yang tadinya tajam langsung melembut, alisnya yang berkerut mengendur, dan sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kecil yang nyaris tidak tertahan. "Tuan!" Dia bangkit berdiri, nyaris menjatuhkan kursinya. Langkahnya cepat menuju pintu, melewatiku, lalu menguncinya rapat. Bunyi klik menggema di ruangan ber-AC itu. Aku terkekeh pelan dan berjalan santai menuju sofa tamu berbahan kulit hitam yang empuk. "Santai saja, Bu Monica. Nant
Read more