Deru mesin mobil meredup di kejauhan, membawa pergi Iis yang duduk manis di kursi penumpang dengan Tejo di balik kemudi. Aku masih berdiri di teras, menyesap sisa teh yang mulai mendingin saat ponsel di saku celanaku bergetar pelan. Layar ponsel menyala, menampilkan notifikasi dari Rahmi. Sebuah foto terlampir, memperlihatkan dermaga yang dipadati kapal yacht mewah dengan lambung mengkilap tertimpa sinar matahari. Tiang-tiang tinggi menjulang, bendera-bendera asing berkibar, dan di latar belakangnya tampak gedung-gedung kaca yang memantulkan langit biru. Pesan berikutnya muncul, "Tuan, sebentar lagi aku akan melayani klien Om Charles." Aku menyeringai kecil, jemariku mengetik balasan singkat. "Oke. Aku akan memantaumu." Tak butuh waktu lama, gelembung pesan kembali muncul. "Sepertinya ini klien penting, karena aku dijemput dan di drop di sini dengan penjagaan ketat." Alisku bertaut. Penjagaan ketat? Ini bukan sekadar konglomerat iseng yang ingin mencicipi tubuh mungil mahasiswi c
Read more