Ruangan kerja Monica selalu punya aroma yang khas—campuran parfum mahalnya, buku-buku tua, dan sesuatu yang lebih personal, lebih intim. Pagi ini aroma itu terasa lebih kuat, mungkin karena jendela-jendelanya masih tertutup rapat dan AC menyala pelan menciptakan hawa sejuk yang kontras dengan panas di luar.Aku sudah duduk nyaman di sofa kulit hitam yang jadi langgananku setiap kali berkunjung. Monica, seperti biasa, sudah tak mengenakan apa pun. Tubuh dosen cantik berusia tiga puluh tahun itu mulus dan putih, dengan lekuk yang tetap terjaga meski usianya sudah kepala tiga. Rambut hitamnya yang lurus sebahu jatuh berantakan saat dia duduk di pangkuanku, punggungnya menekan dadaku, kepalanya bersandar di bahuku."Kau selalu tahu cara membuatku rileks, Tuan."Napasnya hangat menerpa leherku saat lidahku menelusuri bahunya yang terbuka. Kulitnya terasa halus di bawah sentuhan, dan saat aku menjilati tengkuknya yang jenjang, dia mendesah panjang."Pekan ini, Tuan.""Hm?"Aku berhenti seje
続きを読む