Melalui lensa kacamata monitor, aku bisa melihat setiap butir keringat yang mulai muncul di pelipis Ajeng. Visualnya begitu jernih, seolah-olah aku berdiri tepat di belakangnya, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur dengan debu jalanan Pantura."Pak Tejo, kunci yang ini buat Bapak. Kamar nomor 205, ada di lantai atas," Ajeng menyodorkan gantungan kayu kusam itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Tejo menerima kunci itu, namun matanya tidak beralih dari sekumpulan sopir truk yang masih asyik memperhatikan setiap inci lekuk tubuh pelayanku. Seringai tipis muncul di balik kumisnya yang berantakan."Lho, Mbak sendiri di mana? Katanya mau langsung istirahat?""Ajeng di bawah saja, Pak. Kamar pojok nomor 104 itu, dekat parkiran truk. Biar Bapak tenang tidurnya di atas, jauh dari bising suara mesin."Tejo menggaruk dagunya yang kasar, lalu mencondongkan tubuh, berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Ajeng—dan tentu saja, aku."Mbak Ajeng ini... sepertinya memang sengaja ya? Mau
Read more