Getaran mesin kapal yang kuat mulai merambat naik dari lantai kayu jati, menggetarkan telapak kaki dan mengirimkan sensasi halus ke seluruh tubuh. Aku bersandar lebih nyaman di kasur kosanku, menyesuaikan letak kacamata emas ini agar visual yang kuterima semakin tajam. Di layar mentalku, garis pantai Jakarta mulai menjauh, menyusut menjadi garis abu-abu tipis yang perlahan ditelan cakrawala. Di sini, di tengah samudra yang membiru pekat, hukum daratan hanyalah dongeng usang. Moralitas? Benda itu sudah dibuang ke pelabuhan bersama puntung rokok para ABK. "Lihat mereka, Tuan. Begitu kontras, bukan?" Suara Eva berbisik di benakku, sementara mataku terpaku pada jajaran wanita di atas dek. Di sudut sofa, wanita-wanita pendamping para pria tua itu tampak seperti barang kodian; wajah mereka penuh riasan tebal yang mulai luntur oleh uap laut, bibir mereka dipoles warna-warna norak, dan tawa mereka terdengar dipaksakan—centil sekaligus murahan. Mereka hanyalah aksesori pengiring wiski.
Dernière mise à jour : 2026-04-21 Read More