Klik. Dunia serba putih itu mendadak retak, hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipukul palu godam. Dalam sekejap mata, partikel-partikel cahaya menyusun ulang realitas di sekeliling kami. Aroma gurih nasi uduk, bau sambal kacang yang tajam, dan hawa pengap dari atap seng langsung menyergap indra penciumanku.Iis tersentak, tangannya meraba-raba etalase kaca yang mendadak muncul di hadapannya. "Kantin? Kok... kok saya balik lagi ke sini?"Aku berdiri di depannya, bersandar pada pilar beton yang terasa kasar dan nyata di bawah telapak tanganku. "Kau suka dekorasinya, Teh Iis? Aku membuatnya persis seperti aslinya, hanya saja... penontonnya sedikit lebih antusias kali ini."Iis menoleh ke arah bangku-bangku panjang yang biasanya diisi mahasiswa cungkring. Matanya membelalak, napasnya tertahan di tenggorokan. Di sana, sepuluh pria berbadan raksasa duduk diam. Kulit mereka gelap mengilap oleh keringat, otot-otot lengan mereka sebesar paha manusia normal, dan mereka semua menatap
Last Updated : 2026-04-18 Read more