Suara gemerincing rantai besi yang beradu memenuhi ruang bawah tanah yang pengap. Eva tergantung lemas, kedua tangannya yang terikat ke atas membuat dadanya yang montok membusung, naik turun mengikuti napasnya yang pendek dan berat. Keringat membasahi kulit putih porselennya, membuatnya berkilau tertimpa cahaya obor yang menari-nari di dinding batu berlumut. Aku berdiri di depannya, mengagumi kehancuran indah yang baru saja kutorehkan pada asisten virtualku ini. "Kau memang luar biasa, Tuan... tubuhku... rasanya seperti mau pecah," bisik Eva dengan suara parau yang sarat akan gairah. Aku mendekat, membiarkan jemariku yang kasar meraba dagunya yang tirus, memaksanya mendongak untuk menatap mataku yang penuh kemenangan. "Ini baru permulaan, Eva. Kau bilang kau bisa merasakan semuanya, bukan? Rasa sakit dan kenikmatan yang memabukkan itu?" Eva mengangguk perlahan, matanya yang sayu mulai berkaca-kaca. "Ya, Tua
Dernière mise à jour : 2026-05-05 Read More