Obor di dinding batu itu berderit, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di atas kulit porselen Monica yang kini berkeringat. Aku melangkah mendekat, membiarkan ujung sepatuku menyentuh jemari kakinya yang menggantung, lemas namun tegang.Monica memalingkan wajah, rambut hitamnya yang basah menempel di pipi, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke dadanya yang montok."Masih mau pura-pura suci di depanku, Bu Dosen? Lihat betapa tidak berdayanya tubuhmu ini tanpa selembar benang pun."Monica mendongak, matanya yang berbentuk almond berkilat benci meski napasnya tersengal. "Kau... kau hanya sampah yang tidak akan pernah menyentuhku!"Aku menyeringai, jemariku merayap naik ke paha dalamnya, merasakan getaran halus yang menjalar di sana. "Di dunia ini, tidak ada batas antara sampah dan berlian, Monica. Yang ada hanya tuan dan pelayannya. Dan sekarang, pelayanku ini butuh sedikit pela
Last Updated : 2026-04-28 Read more