Bibir Rahmi yang basah dan merah merekah hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirku. Napasnya yang beraroma mint menerpa kulit wajahku, sebuah undangan yang sangat jelas untuk mengklaim mulutnya.Namun, tepat saat dia memejamkan mata dan mencondongkan tubuhnya, suara ketukan yang keras dan tidak sabar menghantam pintu kamar kayu itu.Tok! Tok! Tok!"Permisi! Makanan!"Rahmi tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu, matanya membelalak panik. Tubuh polosnya yang tadi lemas dan hangat dalam pelukanku tiba-tiba menegang kaku seperti papan.Dia mencoba bangkit dari pangkuanku, tapi aku lebih cepat. Jemariku menyusup ke balik rambut pendeknya yang masih lembap, merenggutnya dengan satu sentakan kasar hingga kepalanya terdongak paksa ke arahku."A-ampun, Tuan Bima... itu pasti pesanan makananku," Rahmi merintih, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, mencoba mengurangi tarikan yang membuat kulit kepalanya pedih."Kau memesan makanan dan berani membuka pintu hanya dengan han
Dernière mise à jour : 2026-05-05 Read More