Lina menatap Nela dari ambang pintu dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Tatapannya tajam dan sinis. "Kenapa kamu nanyain Mas Nanang di sini?" tanya Lina pelan, tapi nadanya menusuk. Ia menyandarkan satu bahu ke kusen pintu, jelas tak berniat memberi jalan bagi Nela.Nela mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Wajahnya makin cemberut, rahangnya mengeras menahan emosi. "Aku tau dia disni," jawabnya cepat, hampir mendesis. "Motornya kan ada di depan."Lina menghela napas panjang, sengaja, seperti orang yang sudah lelah menghadapi drama yang menurutnya tak perlu. "Terus kalau dia ada di sini, kamu mau apa?"Lina menegakkan tubuhnya."Kamu bisa apa, Nel?"Kalimat itu seperti api yang disiram bensin. Lina seakan mengaskan dirinya jika dilabarak pun, Nela tak memiliki apa-apa untuk melawannya."Mas Nanang!" suara Nela meninggi, tak ada jalan lain, ia sengaja berteriak memanggil agar Nanang datang."Nel?" suara Nanang terdengar dari dalam,
اقرأ المزيد