“Permisi, Bu,” ucap Nanang sopan saat melewati Dyah, ibu pemilik kos Salsa, yang sedang mengepel lantai.Salsa hanya tersenyum sambil mencubit lengan Nanang, memberikan kode untuk tidak terlalu formal.Nanang tersentak. “Aww...! Apa-apaan sih, Sa? Pake nyubit gue segala," bisiknya kesal.Dyah, yang mendengar interaksi mereka, menatap Nanang dengan tatapan menggoda."Emang aku ada tampang ibu-ibu?""Enggak sih," ucap Nanang, mendadak salah tingkah."Makanya, panggil aku Mbak. Karena aku dari desa!" Dyah menegaskan, senyumnya semakin lebar."Ouh, iya, Mbak. Maaf," Nanang segera meralat.Salsa langsung menarik lengan Nanang,menyelamatkannya dari situasi itu."Mari, Mbak, kami masuk dulu ya!"Dyah mengangguk, lalu kembali fokus pada mengepel lantai. Setiap gerakannya membuat dadanya yang besar berayun lembut, pemandangan yang tak bisa dilewatkan oleh mata Nanang.BRUKK!!!Saking fokusnya Nanang pada dada Dyah, kakinya tersandung ember berisi air pel. Air tumpah, membasahi lantai yang baru
اقرأ المزيد