Layar monitor masih menampilkan sosok yang berjalan di lorong. Langkahnya tenang, stabil, dan tanpa keraguan—seolah seluruh fasilitas ini adalah rumahnya sendiri. Dan mungkin memang begitu.Setiap pintu yang dilewatinya terbuka secara otomatis. Tidak ada bunyi alarm, tidak ada sistem keamanan yang berusaha menghentikannya, tidak ada apa pun. Seolah bangunan tua itu masih mengenali pemilik akses tertingginya.“Kak Raka…” bisik Rayhan pelan, nyaris seperti seseorang yang baru melihat sesuatu yang tidak disangka-sangka.Sementara di sampingnya, Rivan berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya terpaku lekat-lekat pada layar, pada sosok yang selama sepuluh tahun hanya hidup dalam ingatan dan mimpinya.DUM…Pintu baja besar di ujung Ruang Observasi Ketiga akhirnya terbuka perlahan. Bergerak berat, disertai suara decitan logam yang panjang dan menyeramkan.Semua orang seketika menoleh. Bukan lagi ke layar monitor, melainkan langsung ke pintu itu—ke dunia nyata, ke tempat seseorang y
Read more