Tidak ada yang bergerak saat pintu Ruang Inti terbuka sepenuhnya. Udara dingin mengalir keluar, membawa bau logam tua, debu, dan sesuatu yang terasa seperti masa lalu yang telah membusuk terlalu lama. Di tengah ruangan luas itu, Armand Hardian berdiri diam. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan ingatan Kania, namun ia tetaplah ayahnya—orang yang selama ini ia cari dan rindukan. Beberapa meter di belakangnya, Profesor Surya duduk tenang di kursi logam, tangannya bertumpu pada tongkat kayu hitam. Tatapannya menyapu satu per satu wajah yang baru datang, seolah sedang menyambut tamu, bukan menghadapi musuh. “Kania…” Suara Armand terdengar serak dan lelah, namun cukup untuk membuat seluruh pertahanan Kania runtuh seketika. “Papa…” bisiknya. Untuk sesaat, ia kembali menjadi seorang anak perempuan yang kehilangan ayahnya bertahun-tahun lalu—bukan subjek penelitian, bukan kunci, bukan target, melainkan hanya anak yang merindukan sosok ayahnya. Armand ter
Read more