Ruangan kerja itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemuruh hujan di luar jendela, dan detak jarum jam tua yang bergema pelan dari sudut ruangan.Kania masih terpaku menatap lembaran dokumen di tangannya. Jari-jemarinya mulai terasa dingin, namun matanya tak beralih, terus membaca baris yang sama berulang kali. Seolah ia berharap tulisan itu akan berubah, seolah berharap nama di sana hanyalah kekeliruan administrasi, seolah berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera lenyap.Namun semuanya tetap sama.PENGAJU OBSERVASI AWALARMAND HARDIANNama ayahnya. Nama yang selama bertahun-tahun ia cari, rindukan, tangisi, dan tanyakan ke mana-mana. Kini berdiri tepat di hadapannya dalam wujud yang paling menyakitkan."Kania..." panggil Rivan pelan, namun wanita itu tak juga bergerak, matanya masih terkunci pada kertas tua itu. "Kania."Sekali lagi ia dipanggil, namun tak ada jawaba
Last Updated : 2026-05-30 Read more