Kania tidak bisa memejamkan mata semenjak sambungan telepon itu terputus. Pikirannya terlalu penuh, terlalu berisik, terus terbayang wajah Rivan di detik terakhir—pelipisnya berdarah, napasnya memburu, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh rasa memiliki begitu melihat wajahnya muncul di layar ponsel orang lain. Bahkan di tengah bahaya, bahkan saat sedang terluka, hal pertama yang ada di pikiran pria itu tetaplah dirinya. Dan kesadaran itu membuat dada Kania terasa sesak, campur aduk antara rasa takut, rasa khawatir, dan sesuatu yang lain yang mulai sulit dia sangkal. Dia berdiri di depan jendela kabin, memeluk tubuhnya sendiri, menatap lautan gelap yang terasa semakin dingin menjelang dini hari. Sudah hampir tiga jam berlalu, tapi belum ada kabar, belum ada pesan, dan setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, begitu berat. “Brengsek…” gumamnya pelan pada diri sendiri. Dia sadar betul dia sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia ini, terlalu jauh masuk ke dalam hidup Rivan. K
Última atualização : 2026-05-16 Ler mais