Tatapan mereka masih saling bertautan, terlalu lama, terlalu dalam. Kesunyian di dalam kabin itu terasa semakin sempit, semakin penuh oleh perasaan yang kini tak bisa lagi disembunyikan, tak bisa lagi disebut sekadar obsesi sepihak. Kania bisa melihatnya dengan jelas di mata Rivan—pria itu benar-benar terguncang oleh pengakuannya tadi. Bukan karena rasa menang, bukan karena egonya terpuaskan, tapi karena akhirnya, setelah bertahun-tahun mengejar, setelah bertahun-tahun menghancurkan segalanya demi satu orang, dia mendengar Kania berkata dia takut kehilangannya. Dan itu jauh lebih berharga daripada segala kekuasaan, kekayaan, atau apa pun yang pernah dia miliki. “Kau tidak boleh menatapku seperti itu,” bisik Kania pelan, suaranya terdengar lemah. “Seperti bagaimana?” jawab Rivan, nadanya serak dan rendah. “Seolah… aku ini sesuatu yang terlalu penting buatmu.” Degup. Senyum kecil terbit di bibir Rivan—senyum yang lelah, tapi begitu hangat, begitu tulus. “Karena memang begitu. Ka
Última atualização : 2026-05-16 Ler mais