Pagi datang perlahan, menyibakkan kabut tipis yang menyelimuti samudera. Langit di atas laut masih memancarkan warna abu-abu kebiruan saat kapal itu terus membelah ombak yang tenang. Tak ada lagi daratan yang terlihat di sekeliling mereka, hanya hamparan air luas yang membuat dunia terasa kosong, jauh, dan seolah waktu berhenti berputar.Namun, anehnya—Kania sama sekali tidak merasa sendirian.Rivan berdiri di sisinya di dek luar kapal. Kemeja hitamnya sedikit kusut, bukti bahwa ia juga tak memejamkan mata semalaman. Angin laut menerpa rambutnya yang berantakan, membuat penampilan pria itu terlihat lebih liar dan tak tersentuh seperti biasanya. Dan Kania membenci kenyataan bahwa ia justru menganggap pemandangan itu indah. Sangat indah.Ia bersandar di pagar pembatas kapal, memeluk tubuhnya sendiri pelan. Pikirannya penuh sesak—tentang Abian, tentang pengejaran yang belum selesai, tentang masa lalu yang kelam, dan terutama tentang Rivan.Pria itu berdiri terlalu dekat, persis seperti k
Last Updated : 2026-05-12 Read more