Suasana dapur yang beberapa detik lalu terasa hangat, mendadak berubah.Sunyi. Terlalu sunyi.Kania melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Rivan berubah tepat setelah membaca pesan singkat itu. Perubahannya tidak drastis, hanya sedikit, namun sekarang Kania sudah terlalu mengenal pria itu untuk bisa menangkap sinyal bahayanya. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam, dan bahunya sedikit menegang.Abian. Lagi."Kamu mau memberitahuku sendiri, atau aku harus merebut ponselmu dulu?" suara Kania memecah keheningan yang menyesakkan itu.Rivan langsung mengunci layar ponselnya—terlalu cepat. "Kamu lapar, Kania. Makanlah dulu.""Aku lapar, tapi aku juga tidak bodoh, Rivan."Sunyi menyelimuti mereka kembali. Tatapan mereka bertemu, dan dalam beberapa detik kebisuan itu, Kania sudah cukup mengerti. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah."Riv.""Hm.""Jangan bohong padaku," suara Kania memelan, namun cukup kuat untuk membuat Rivan akhirnya mengembuskan napas panjang.Itu pemandangan yang jarang
Última atualização : 2026-05-20 Ler mais