Bunyi ledakan ban itu masih terngiang jelas di telinga Kania, seperti gema yang tak mau hilang. Namun, mobil mereka kini sudah melaju jauh, meninggalkan kekacauan di belakang. Satu per satu, lampu kendaraan yang mengejar mereka menghilang, tertelan oleh kegelapan malam yang pekat. Sunyi kembali merajai kabin mobil. Namun, sunyi kali ini terasa berbeda—lebih berat, lebih berisi. Kania masih menggenggam pistol itu. Jemarinya kaku, belum sepenuhnya bisa rileks. Ia menunduk, menatap benda logam dingin yang baru saja ia gunakan untuk mencelakai orang lain. Ia menatapnya cukup lama, mencoba mencari sisa-sisa dirinya yang dulu di sana. "Aku benar-benar melakukannya..." bisik Kania. Suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin. Rivan melirik sekilas, ekspresinya tetap datar namun matanya mengawasi setiap perubahan raut wajah wanita di sampingnya. "Ya." Jawaban singkat itu menghanta
Last Updated : 2026-05-06 Read more