Di tengah kesibukan mempersiapkan rapat darurat pemegang saham, keheningan ruang kerja Raga pecah. Pintu ganda ruangan itu terbuka kasar tanpa ketukan, menampilkan sosok Aleya dengan napas memburu dan wajah yang diselimuti amarah membara. "Aku sudah mencarimu selama berhari-hari, Raga!" Raga yang sedang meneliti berkas di atas meja hanya mengangkat pandangan sekilas, lalu kembali fokus pada dokumennya. "Ada apa?" "Ada apa?" Aleya tertawa getir, nada suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan. "Anakku hampir celaka, Raga! Aku telantar di rumah sakit, pria tua bangka itu mendatangi dan menginterogasiku layaknya penjahat. Dan selama neraka itu terjadi, kamu bahkan tidak menunjukkan batang hidungmu sekali pun!" Raga meletakkan pulpennya perlahan. Gerakannya begitu tenang, sangat kontras dengan badai emosi yang dibawa Aleya. Tatapannya turun, tertuju lurus pada perut Aleya yang kini mulai membulat. "Aku tahu." "Kalau kamu tahu,
Read more