Di belahan dunia lain, jauh dari bayang-bayang nama La Grande, ancaman Raga yang tak pernah berakhir, dan permainan kekuasaan yang melelahkan, Juna menjalani hari-harinya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semuanya terasa tenang, lambat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar bahagia. Pagi itu, Salva mendorong kursi roda Juna menyusuri jalan setapak yang membelah hutan kecil di dekat kastil mereka. Udara musim semi terasa segar, dan cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan menciptakan bayangan yang menari indah di atas jalan batu. "Ayo, Mas. Dokter bilang hari ini harus lebih banyak latihan," ajak Salva ceria. Juna mendesah panjang, mencoba menutupi kegugupannya dengan candaan. "Kamu dan dokter itu seperti bekerja sama untuk menyiksaku." Salva tertawa kecil, suara tawa yang kini menjadi melodi favorit Juna. "Karena kalau tidak dipaksa, Anda akan selalu punya alasan untuk bermalas-malasan."
Read more