Siang itu, Juna akhirnya menyerah pada suasana hatinya. Sudah hampir satu jam ia terjebak di kursi direksi, menatap tumpukan laporan yang huruf-hurufnya tampak menari-nari tanpa makna. Ruangan itu mendadak terasa luas, sunyi, dan menyesakkan.Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol interkom. "Salva, masuk."Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Salva melangkah masuk dengan tablet dan buku catatan di tangan. Namun, Juna langsung menangkap sesuatu yang ganjil. Wanita itu tampak... kuyu. Rambutnya rapi, seragamnya on point, tapi auranya seperti orang yang baru saja kehilangan kucing kesayangannya."Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Salva dengan nada yang terlalu datar dan hati-hati.Juna menatapnya tajam. "Kamu kenapa?"Salva berkedip. "Maaf?""Kamu. Kamu kenapa?""Tidak ada apa-apa, Tuan.""Bohong.""Saya baik-baik saja.""Kamu baru masuk ke ruangan ini lima detik, Salva, tapi wajahmu sudah menu
Read more