Althea terpana, pada pemandangan yang ada di depannya.Saat pertama kali ia membuka mata setelah... ah, Althea memilih mengingat semua yang baru saja ia alami, cukup di dalam hatinya saja. Sebagai salah satu kenangan paling indah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ditambah ia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi pria yang sebenarnya... ia cinta.“Beruntungnya aku,” bisik Althea, nyaris tak bersuara. Jemarinya terulur, nyaris menyentuh pelipis Daven atau sekadar merapikan anak rambut yang terjatuh di dahinya. Tapi, ia urungkan. Ia merasa tak berhak. Bisa menghabiskan malam bersama Daven saja sudah cukup melebihi apa yang ia impikan. Dan kini, menyaksikan sosok lelaki itu terlelap dalam damai ... membuat hatinya nyeri dan bahagia bersamaan.“Terima kasih sudah mau mengabulkan permintaanku.” Althea mengepalkan tangannya, erat. Ia tahu, apa yang ia lakukan sangat rendah. Tapi hanya itu satu-satunya cara baginya untuk memiliki kenangan tentang Daven.“Maaf
Last Updated : 2026-04-12 Read more