Share

[15]

Penulis: Major_Canis
last update Tanggal publikasi: 2026-04-14 13:00:12

“Ehm ... kenapa empuk sekali?” tanya Althea pelan. Kelopak matanya mulai terbuka. Cahaya lembut sedikit demi sedikit menyusup hanya agar penglihatannya semakin jelas. Ia merasa sekitar. Biasanya, akan ia temui boneka kelinci serta ponsel yang selalu tergeletak begitu saja.

Ponsel yang sering kali ia gunakan untuk melihat jam kala Althea membuka mata.

Saat itu lah ... ia menyadari sesuatu. “Ini bukan ... kamarku?” Ia mengerjap berkali-kali, mencoba memasti

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [70]

    “Kabar terakhir yang saya dapat, Nona Althea dan Tuan Chase akan melangsungkan pertunangan mereka 3 bulan lagi. Sehari setelah ulang tahun putranya, Josh,” kata Rio sembari membuka berkas terakhir yang ia berikan pada Daven.Saat Daven memberi kabar harus kembali ke Mighatan segera lantaran ibunya sakit, tugas Rio mengawasi secara menyeluruh dan jika ada celah, bisa mendekati Josh. Walau itu sukar. Tapi Rio tak bisa menolaknya, kan?“Sepertinya anak ini tumbuh dengan cepat, ya?” Daven tak terlalu fokus dengan ucapan Rio. Fokusnya pada foto yang Rio ambil—Josh berkegiatan di luar ruangan bersama teman-temannya. Mengurus taman kecil yang tak jauh dari area sekolah dan cukup terbuka untuk diamati. Meski berada di bawah pengawasan para guru, tapi jika melakukan kegiatan seperti ini, mudah bagi Rio untuk mendapatkan banyak foto.“Saya rasa ... tinggal di lingkungan yang nyaman dan aman bisa membuat seorang anak tumbuh dengan baik.”“Kau benar,” sahut Daven dengan senyum tipis. “Lanjutkan p

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [69]

    “Benar-benar menguras energi,” keluh Vanessa sembari terus melangkah. Yang terpenting, tujuannya menyampaikan pesan Theo Blake—ayahnya. Niat terselubungnya gagal total. Padahal ia ingin sedikit bersikap baik dan ramah pada ibu mertuanya. Ia tak ingin ada di dalam keadaan seperti ini tapi ...“Kenapa wanita itu semakin bertambah usia, semakin membebaniku?” gerutunya. Langkah Vanessa terus menapaki koridor depan menuju lift ketika suara Daven terdengar dari belakang—dingin dan tegas.“Jangan keluar lewat lobby.”Vanessa berhenti, lalu menoleh pelan. “Kau baru tiba?” Ia pun menyambut suaminya dengan senyum lebar. “Aku baru saja bertemu ibumu. Tapi aku harus bertemu dengan war—““Lebih baik kau pulang. Urungkan niatmu bertemu wartawan,” sahut Daven tegas.“Kenapa tidak?”“Kau masih menanyakan hal itu?” Daven mendekat, rahangnya mengetat. “Kau ingin membuat pertunjukan di rumah sakit ini? Membiarkan mereka ikut meliput keadaan ibuku?”Vanessa tersenyum tipis. “Aku tidak memanggil mereka. L

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [68]

    “Aku buru-buru kembali ke rumah sakit begitu mendapat kabar Mommy tersadar. Maaf, meski agak terlambat karena harus menyelesaikan satu jadwal lagi.” Vanessa tersenyum semanis madu.Vanessa tak bohong mengatakan hal itu. Begitu mendapatkan kabar, ia segera datang ke rumah sakit dengan dandanan rapi dan senyum yang sudah ia siapkan sejak turun dari mobil. Kedua tangannya terdapat paper bag dengan brand salah satu toko obat ternama. Salah satunya berisi CoQ10 dan Omega-3, vitamin yang katanya baik untuk tekanan darah; satu lagi berisi teh herbal tanpa kafein, serta buket bunga lili putih—kesukaan Kate.“Aku akan menata bunga ini di sudut ruangan. Kau menyukainya, kan?” tanya Vanessa masih dengan senyumnya yang lebar.“Kau tak perlu merepotkan diri seperti itu,” sahut Kate datar. Ia bahkan tak berminat dengan apa pun yang Vanessa bawa. Biasanya kunjungan serta waktu yang Vanessa luangkan untuknya sangat menyenangkan. Tapi entah sejak kapan semua itu berubah. Seolah ada jarak yang sangat l

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [67]

    “Tuan, silakan kopi Anda.” Pelayan kafe meletakkan penuh hati-hati kopi pesanan Daven. Selain takut mengenai berkas yang terserak di meja, bagi si pelayan, wajah pelanggannya sore ini tampak menakutkan.Daven diam saja melirik cangkir kopinya. Yang mengucapkan terima kasih justru datang dari pria yang duduk di depan Daven—Arsen.Tak lama pelayan itu pergi, Arsen menghela panjang. Ia tahu kenapa Daven bisa semuram itu. Arsen tak menutup mata dengan laporan yang masuk mengenai hasil pengintaian Vanessa selama mereka ada di SunCity. Semakin menguatkan dugaan jika istri Daven benar-benar berselingkuh dan mengkhianati kepercayaan Daven.Ditambah keadaan Nyonya Kate Callister, yang meski dokter mengatakan tak perlu ada yang dikhawatirkan, sampai hari ini belum juga menemui kesadarannya. Apalagi belum lama Daven mendapatkan telepon dari Theo Blake, mertuanya. Pasti ada sesuatu yang mereka bicarakan dan itu memengaruhi mood Daven.“Tak ada kabar dari Chris Miller?” tanya Daven. Tatapannya tak

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [66]

    “Kenapa kau menahanku?” tanya Vanessa penuh amarah. Ia menyentak tangan James yang sejak tadi memeganginya begitu sampai di mobil. “Apa kau sengaja agar aku tak bisa bicara dengan Daven?”“Saya tak pernah punya niat seperti itu, Miss Vanessa,” sahut James dengan sabar. “Mari, silakan masuk dulu. Lebih baik Anda tenangkan diri di dalam.”“Dari mana aku bisa tenang sementara keinginanku bicara dengan Daven!” bentak Vanessa namun saat ia melihat sudut bibir James yang terluka karena ulahnya, ia merasa menyesal. “Ambil kotak obat dulu. Biarkan aku mengobati lukamu.”“Lakukan saat kita ada di dalam mobil saja, Miss Vanessa.”Ucapan James ada benarnya juga. Maka dari itu, meski masih menyimpan amarah lantaran tak bisa mendapatkan apa yang ia mau, Vanessa tetap masuk ke dalam mobil. Menerima kotak obat tak lama setelah James juga masuk. Dengan penuh hati-hati dan ketelitian, Vanessa mengobati luka James.“Pasti sakit sekali, kan?” tanya Vanessa dengan nada menyesal. “Maafkan aku.”“Anda tak

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [65]

    “Apa maksudmu?” tanya Vanessa, suaranya meninggi dan matanya menyorot tajam. “Kau bicara seolah aku melakukan sesuatu yang buruk?”Daven tak langsung menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, lalu menyunggingkan senyum tipis yang lebih mirip ejekan. Tanpa berkata apa pun, ia berdiri dan berjalan ke sisi tempat tidur.Dengan hati-hati, Daven duduk di kursi yang ada di dekat ranjang ibunya. Tangannya terulur, menggenggam tangan Kate dengan lembut. Wanita paruh baya itu masih tertidur, raut wajahnya tampak tenang, meski sedikit pucat. Daven menghela panjang lalu mengecup punggung tangan ibunya.“Maafkan aku yang jarang sekali memerhatikanmu.”Felicia yang sejak tadi duduk di sofa, ikut mendekat. Duduk di sisi lain ranjang ibunya. Sama seperti Kalina yang ikut duduk di sisi Felicia.“Sesekali pulanglah ke rumah, Daven. Mommy sering menanyakan kepulanganmu,” kata Felicia pelan.“Akan kuusahakan.”“Sudah lama kau tak pulang, kan? Apa kau tak merindukan rumahmu? Makan bersama kami?” tanya Kalina d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status