Se connecter“Sialan! Aku sudah terlambat.”Lampu lorong rumah sakit berpendar pucat, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri di depan ruang sterilisasi sebelum operasi besar dimulai.Jam dinding digital di atas pintu menunjukkan pukul 14.10 WIB.Diego terlambat tepat sepuluh menit.Napasnya masih agak memburu. Bukan karena ia berlari menyusuri koridor, melainkan karena sisa keletihan yang menyenangkan setelah percintaan intens siang ini bersama Silvi di sebuah hotel dekat rumah sakit.Diego berusaha mengumpulkan kembali energinya yang sempat terkuras habis.Namun, penampilannya tidak bisa berbohong. Jas dokternya tersampir miring, kancing kemejanya berselisih lubang dan rambut yang biasanya klimis kini tampak acak-acakan.Arlan, bersandar di dinding sambil melipat tangan.Tatapannya tajam, menelisik penampilan Diego dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski begitu, ada kilat geli yang tertahan di sudut matanya.“Sepuluh menit, Diego,” Arlan mengetuk jam tangannya sendiri.Suaranya tertahan na
“Dia udah sampai duluan,” gumam Silvi sambil melihat jam di tangannya.Sepertinya Diego sudah tidak tahan bercinta dengan Silvi.Silvi melangkah terburu-buru menyusuri koridor hotel berkarpet tebal, mengabaikan detak jantungnya yang berkejaran liar.Tit!Begitu pintu kamar mewah di depan ujung koridor terbuka, sosok Diego langsung menyambutnya.“Aku udah nunggu lama, Beb.”Tidak menunggu waktu lama, Diego langsung meraup bibir Silvi sambil membuka pakaian Silvi hingga tandas, Silvi juga membuka kemeja hitam yang digunakan Diego.“Eumph, ahhhh sabar Sayang,” bisik Silvi dengan senyum nakalnya.Pertemuan yang penuh ketegangan itu memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, yang selama ini terhalang oleh kenyataan pahit.“Aku dari semalam memikirkanmu.” Suara Diego serak parau menahan gairah.Diego menatap Silvi dengan tatapan dalam, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan wanita itu.“Aku juga masih kangen sama kamu, Sayang.” Diego menarik Silvi ke ranja
“Sayang!”Arlan bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan mendekat dan menarik tangan Karin dengan lembut untuk mengajaknya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.Pria itu berlutut di hadapan Karin, memandangi wajah lelah istrinya dengan tatapan yang mendadak berubah intens.Tatapan penuh kepemilikan yang selalu berhasil membuat Karin terpaku.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Arlan maju dan langsung meraup bibir Karin dengan rakus.“Eumph, apaan sih Sayang, nanti ada orang masuk.”Karin terkejut, namun ciuman menuntut itu segera mematikan seluruh protes di benaknya.“Bibir kamu lembut sih Sayang,” jawab Arlan disela-sela kecupannya. Tadinya, Arlan hanya berniat mengecap bibir ranum itu sebentar saja sebagai pelepas penat.Namun, sensasi manis dan kehangatan yang begitu nikmat dari Karin membuat Arlan kehilangan kendali.Pria itu memperdalam ciumannya, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di lingkungan rumah sakit, terus melanjutkannya sampai ia merasa benar-benar pu
“Siapa itu?”Karin menatap nanar dari ujung koridor lantai dua gedung rumah sakit. Di bawah sana, di area parkir yang terik oleh matahari siang, Silvi berjalan terburu-buru.Alih-alih menuju kantin untuk mencari makan di jam istirahat koas seperti yang lain, perempuan itu justru melangkah mantap menuju sebuah sedan hitam keluaran terbaru.Ya. Mobil baru!Karin tahu persis dari mana asal kendaraan mewah itu. Dari Papinya.“Mau kemana Silvi?” batin Karin, suaranya tercekat di tenggorokan.Karin hanya bisa memandang dari kejauhan dengan tatapan kosong.Di dalam hatinya, rasa peduli sudah lama mati. Hubungan mereka sudah terlanjur rusak dan tidak akan pernah bisa membaik.Sejak Maminya meninggal, Silvi dengan begitu mudahnya masuk, merebut posisi, dan menikmati seluruh fasilitas mewah sebagai simpanan Papinya.Memang bukan kemauan Silvi tapi Silvi pun tidak menolak.Karin membuang muka, lalu berjalan gontai menuju bangku taman rumah sakit yang sepi.Ia merogoh saku jas putih koasnya, meng
“Kayaknya dia udah tidur.”Silvi perlahan menyibak selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya, bergerak sehalus mungkin agar tidak terusik oleh pergerakan Rion.Ia memungut jubah tidur satinnya, memakainya dengan tergesa, lalu melangkah keluar dari kamar megah itu menuju balkon luar yang berudara dingin.Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar akibat angin malam, Silvi menatap layar ponselnya.Jari-jarinya bergerak ragu sebelum akhirnya menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.Nomor Dokter Diego.Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.Seolah-olah pria di seberang sana memang sedang menggenggam ponselnya semalaman penuh.“Beb....” Suara Diego terdengar berat, serak dan dipenuhi oleh ketegangan yang tertahan.“Kamu baru bisa meneleponku jam tiga subuh? Dia baru melepaskanmu?”Silvi menghela napas pendek, merasa bersalah sekaligus terikat.“Rion baru aja tidur, Dok ... maaf.”Diego terkekeh sinis di seberang telepon.Di dalam rumahnya yang sepi, Diego m
“Makasih Sayang, aku puas banget malam ini,” ucap Rion sambil mengecup kening Silvi cukup lama.“Sama-sama Sayang, yang penting kamu senang.” Ya, Silvi tidak bisa menolak, meskipun tulangnya seakan remuk.Setelah malam yang panjang dan melelahkan bagi Silvi di bawah dominasi Rion, kamar tidur yang megah itu kini hanya menyisakan hening.Napas Silvi masih sedikit memburu, kulitnya terasa dingin saat bersentuhan dengan seprai sutra.Silvi melihat tubuhnya penuh dengan keringat, ia pun sebenarnya sangat puas, hingga ingin tidur rasanya.Di tengah keheningan itu, Rion tiba-tiba bergeser mendekat, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Silvi yang masih berusaha mengumpulkan kembali energinya.“Koasmu sebentar lagi selesai, kan?” tanya Rion membuka percakapan, suaranya berat dan rendah, menggema di kamar yang sunyi. “Setelah semua ini selesai, apa rencanamu? Aku hanya ingin tahu. Dan kalau ada hal yang bisa kubantu dengan kuasaku, katakan saja.”Silvi menarik napas dalam-dala
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







