로그인“Sayang, kau serius ingin mengeluarkan ASI?” bisik Arlan dengan nakal. Kedua jarinya sibuk menekan ke area intim Karin dengan alasan ini adalah pembelajaran. Sialan! Arlan selalu punya cara untuk membuat Karin tunduk dan patuh meskipun Karin sedang bersama dengan seorang pria. “Apa maksudmu?” tanya Karin dengan wajahnya yang merah. Kedua jari Arlan mengisi tubuhnya dan membuat Karin bergairah. “Aku pernah mengambil pelatihan khusus laktasi di luar negeri tapi aku tidak mencantumkan gelarnya, kalau kau mau, kita bisa mulai terapi,” bisik Arlan dengan suaranya yang menggoda. “Ahhhh eummmph dokter, stopppp!” Karin tidak sanggup dibuat menderita seperti ini oleh Arlan. “Kau ingin aku berhenti atau mengisi tubuhmu, Sayang?” tanya Arlan sambil menarik kedua tangannya yang basah karena pelumas Karin. “Aku ingin keluar, kau tidak bisa melarangku.” “Kalau kau keluar, aku akan pastikan kau tidak akan lulus Karin,” jawab Arlan tegas. “Kau mengancamku?” “Ya, duduk!” Arlan meminta Karin
“Akhhhh!” Arlan kesakitan karena pundaknya digigit oleh Karin, Karin keluar dari ruangannya setelah melukainya. “Hahahah, Sayang.” Sialan! Karin tidak ingin bercinta, ia kabur secepat mungkin dan Arlan sudah tidak lagi memanggilnya. Tapi tidak apa, waktunya mereka masih panjang, kapanpun Arlan bisa bertemu dengan Karin. Karin tidak akan bisa jauh darinya, sekarang ia Direktur, kalau Arlan tidak mengizinkan Karin lulus, ia tidak akan lulus. Jadi, Karin harus berbaik hati dengannya. “Aku gak akan mau jadi budak ranjang kamu lagi dokter,” gumam Arlan setelah berhasil keluar dari rumah sakit. Karin mengomel tidak karuan sampai ia menabrak seseorang. “Xavier?” Karin tidak menyangka ada pria ini, Xavier datang dengan membawa bunga mawar merah, sengaja sekali ingin bertemu Karin. Xavier jarang ada di Indonesia, makanya ketika ia pulang, Xavier sempatkan bertemu dengan Karin. “Hai, cantik. Kenapa?” tanya Xavier melirik ke belakang. Ada siapa sampai Karin ketakutan dan seperti menghin
“Rin, dipanggil dr. Arlan!”Baru saja sampai rumah sakit setelah makan siang dengan Silvi, ada saja yang mencarinya. Padahal Karin sudah menghindar, sudah tidak mau lagi melihat pria mesum itu tapi Arlan selalu saja mencari cara mendekatinya. “Ngapain?” tanya Karin dengan wajahnya yang kesal. “Gak tau tapi kayaknya masalah laporan deh, laporan kamu salah lagi gitu, dr. Arlan tadi sambil mengecek laporan dan geleng-geleng.” “Hahh?” Ia saja baru mulai melanjutkan membuat laporan. Apalagi laporan yang sedang Arlan cek. Bohong sekali! “Oke, duluan aja Sil, aku mau ke ruangan dr. Arlan dulu, minta netek kali dia,” ucap Karin kesal. “Terus mau kamu teteki? Memang dia sapi?”Karin menarik napas berat. Memangnya di dunia ini cuma sapi yang menyusui. Ada juga pria dewasa yang terobsesi dengan ASI contohnya Arlan, makanya ia mau menikah dengan dr. Renata, wanita yang memproduksi ASI tumpah-tumpah itu. “Dia manusia Sil, udahlah aku mau cepet.” Karin melambaikan tangannya dan Silvi hanya m
“Ya ampun,” ucap Karin menggeleng saat Silvi keluar dari ruangan dr. Haikal dalam keadaan yang berkeringat dan berantakan. Silvi tahu pasti Karin mendengar mereka tadi bercinta. Mana mungkin Karin diam saja dan menunggu dengan sabar. “Hehh!” Senyum mengejek Karin sudah menjelaskan semuanya. “Apa sih?” tanya Silvi kesal. “Katanya mau putus, kok gituan di ruangan dr. Haikal?” Sudah Silvi duga kalau Karin mengintip mereka tadi di dalam ruangan. “Syaratnya gitu,” jawab Silvi dengan wajahnya yang memelas. “Ya ampun dikasih syarat begitu, kamu mau aja. Gak mungkin Sil. Pasti ada hal lain, gak mungkin, kan?” Silvi mengangguk. “Aku gak lulus Rin kalau gak mau kasih dia itu, untung aja aku udah gak periode lagi, ya udah aku kasih aja, sekali juga,” jawab Silvi sambil menunduk. “Nanti kalau dia minta lagi? Kamu yang susah Sil, gimana kalau dia bohong, dia tetap mau menikah sama kamu?” “Hemm, aku gak tau Rin tapi jujur kalau dia minta lagi, aku kasih.” Memang aneh, bisa-bisanya ketag
Dari pagi, rumah sakit sudah sibuk hari ini, karangan bunga berdatangan mengucapkan selamat pada dr. Arlan yang terpilih menjadi Direktur Utama. “Rin, dr. Arlan yang jadi Direktur,” ucap Silvi saat mereka melewati halaman parkir mobil yang penuh dengan karangan bunga. Karin diam saja, tidak ada urusan dengannya, walaupun Arlan jadi Direktur, tidak menguntungkan sama sekali untuk Karin. Toh, yang menikmati kebahagiaan ini adalah dr. Renata. Begitu mereka masuk ke dalam rumah sakit, melewati koridor-koridor, Karin dan Silvi bertemu dengan banyak dokter yang menyapa dr. Renata. Gosip tentang pertunangan Renata dan dr. Arlan ternyata sudah menyebar luas. “Selamat dr. Renata, dr. Arlan jadi Direktur rumah sakit, aduh pasti senang banget, mana katanya sebentar lagi mau nikah, ya?” Renata tampak mengulum senyumnya yang malu-malu. Sedangkan Karin hanya melengos kesal. Jangan sampai, ia percaya lagi dengan namanya pria. Tidak ada pria yang benar-benar mencintainya, semua omong kosong!“
“Gak ada Mi, gak ada yang Karin suka!” Karin malas membicarakan masalah cinta, saat ia sedang suka-sukanya dengan Arlan, justru yang ia dapatkan rasa sakit hati. Ia sudah hilang semuanya, ia dijanjikan setinggi langit tapi yang ia dapatkan hanya kebohongan yang pahit. Tetap saja ia malah. “Ya sudah Karin istirahatlah.” Mami Kaina mengecup kening Karin setelah itu keluar dari kamar. Mami yang sayang sekali seperti ini dengannya, mana mungkin bukan orang tua kandung, kemarin Karin hanya berpikir mungkin saja ia dan Arlan berjodoh kalau ia bukan anak kandung orang tuanya, karena Karin sedang cinta dengan Arlan, sekarang tidak butuh lagi. Untuk apa? Arlan juga memilih Renata. “Lama banget sih mandinya Rin, udah kayak princess banget,” ucap Silvi sambil mengucek matanya, akhirnya ia bangun juga dari tidur yang sebentar, Silvi mendengar ada suara orang bicara setelah ia bangun malah Karin sendirian.“Itu makanan dari dr. Arlan, dia perhatian banget sama kamu Rin,” lanjut Silvi menunju
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







