“Karin, ayo bantu Nenek untuk menyiapkan makan malam!” Karin menutup teleponnya sebelum Arlan sempat menjawab. Arlan tersenyum manis mendengar suara merdu Karin, sudah lama sekali tidak mendengar suara wanita itu, masih sama, seksi, menggoda dan membangkitkan gairah. Padahal hanya satu kata saja ‘halo’. Karin panik, ia menutup teleponnya dan meletakkan kembali ke nakas dalam posisi hidup, ia sedang mengisi daya ponselnya dan setelah selesai membantu Neneknya di dapur nanti, batre ponselnya pasti sudah penuh. Sejak di London, Karin belajar sedikit-sedikit masak, hanya masak pasta dan barbeque saja, Karin tidak pandai masak.“Tanya pada Xavier, ia suka makanan apa?” Karin menoleh sebentar ke Neneknya, ia malas bertanya hal ini pada Xavier, seolah ia harus tahu apa saja yang Xavier suka dan tidak sukai. “Semua orang pasti suka daging, Nek.” “Tanya dulu, siapa tau dia gak suka. Kamu harus rajin bertanya tentang dia, Karin.” Kenapa? Karin tidak mau mengikutinya dan hanya diam sambi
Read more