Beranda / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 352 Rindu Yang Begitu Berat

Share

Bab 352 Rindu Yang Begitu Berat

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 17:17:39

Untungnya Silvi menolak tawaran Diego untuk mengobatinya meskipun ia ingin, Silvi lebih baik fokus ke stasenya daripada memikirkan pria-pria yang mendekatinya.

Silvi sedang masak makan malamnya saat teleponnya berdering, itu nomor yang ia tidak kenal.

“Siapa ini?”

Silvi menggeser tombol hijau untuk mengangkat telpon dari nomor itu.

Semoga bukan Papi Karin yang setiap waktu menerornya.

“Halo,” ucap Karin dengan senyumnya yang paling manis.

Suara yang Silvi kenal dengan sangat jelas. Sahabatn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 356 Menyambut Kedatangan Karin

    Arlan tidak bisa berpikir sejak kemarin, ia tidak fokus melakukan apapun, bahkan saat ia mendapatkan undangan dari kampus Karin, ia masih banyak melamun.Karin pasti sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta, sebentar lagi kekasihnya akan sampai. Tapi, ia tidak punya persiapan. Tidak ada bunga, kue atau makan malam yang romantis. Arlan mengambil ponsel dari saku celananya, ia menyimpan nomor telepon toko bunga. “Siapkan bunga mawar seribu tangkai untukku besok pagi,” ucap Arlan dan toko bunga menerima pesanan Arlan. Ya, kue. Arlan juga akan siapkan kue setelah ia pulang dari kampus, apapun asal Karin senang melihatnya. Mendengar Karin ingin melupakannya, membuat Arlan ingin marah tapi semalam ia keterlaluan, Karin sampai panik dan menutup telepon karena teriakan Arlan. “Aku harus minta maaf, aku gak seharusnya kasar,” gumam Arlan sambil mengetik permohonan maaf untuk Karin, semoga saja Karin tidak marah lagi, pesannya dari pagi belum dibaca, pasti karena Karin sudah tidur. Siang

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 355 Tidak Menyusui Bayi

    “Tapi, kalau aku yang mengobatimu. Aku akan membuatmu sangat mencintaiku.”Karin hanya membacanya saja dan tersenyum. Sesekali ia menggigit bibirnya dengan kuat. “Anda adalah seorang wanita yang bahagia saat bertemu dengan pasangan Anda, Anda adalah seorang wanita yang sangat mempesona dan bergairah ketika bersama dengannya. Pria itu bernama Arlan Pradipta.” Arlan tertawa saat mengetik pesan sepanjang itu, Karin juga tertawa tetapi ia tidak tunjukkan. “Dasar aneh!” Karin mengumpat dalam hati. “Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Sayang? Tentang hidupmu disana. Cerita apapun yang terjadi saat kau jauh dariku atau aku saja yang cerita. Boleh aku telpon?” tanya Arlan. Karin mengetik ….“Aku sudah mau tidur,” jawab Karin. Tidak ada emosional hanya pesan singkat yang penuh perasaan. Arlan menekan nomor telpon Karin, panggilan video call tapi selalu Karin tolak, Arlan mengganti menjadi panggilan biasa, mungkin Karin malu atau apalah, Arlan juga tidak tahu, yang jelas ia tidak a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 354 Masih Menunggumu

    “Xavier kau harus menjaganya, Karin pemalu. Pasti itu untukmu, hahahah.” Padahal Karin membeli syal itu untuk Arlan. Sekarang, ia tidak mungkin ada kesempatan untuk memberikannya. “Pasti Tante, aku akan menjaga Karin dengan baik.” Mereka hanya menunggu Karin turun dari kamar. Sebelum turun, Karin melirik lagi ponselnya. Apa ada pesan lagi dari Arlan? Ternyata ada. Entahlah Karin tiba-tiba senang kalau Arlan masih peduli dengannya. Padahal ia sudah sering menyakiti hati Arlan. Sifatnya yang labil, keras dan mengesalkan. Arlan sangat sabar menghadapi dirinya yang seperti itu.“Katanya besok kau sudah pulang, jangan lupa melapor!” Arlan selalu mencari alasan untuk bisa bertemu Karin, Arlan tahu kalau Karin akan masuk lagi di stase bedah. Karin mengetik ….Tadinya ia mau membalas tapi tidak jadi, Arlan tersenyum saat Karin sudah mulai merespon isi pesannya. Ia tidak sabar melihat balasan pesan Karin. Apa itu menyakitkan atau justru yang membuatnya bahagia. Karin mengetik ….Lagi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 353 Tanda Cinta Dari Karin

    “Karin, ayo bantu Nenek untuk menyiapkan makan malam!” Karin menutup teleponnya sebelum Arlan sempat menjawab. Arlan tersenyum manis mendengar suara merdu Karin, sudah lama sekali tidak mendengar suara wanita itu, masih sama, seksi, menggoda dan membangkitkan gairah. Padahal hanya satu kata saja ‘halo’. Karin panik, ia menutup teleponnya dan meletakkan kembali ke nakas dalam posisi hidup, ia sedang mengisi daya ponselnya dan setelah selesai membantu Neneknya di dapur nanti, batre ponselnya pasti sudah penuh. Sejak di London, Karin belajar sedikit-sedikit masak, hanya masak pasta dan barbeque saja, Karin tidak pandai masak.“Tanya pada Xavier, ia suka makanan apa?” Karin menoleh sebentar ke Neneknya, ia malas bertanya hal ini pada Xavier, seolah ia harus tahu apa saja yang Xavier suka dan tidak sukai. “Semua orang pasti suka daging, Nek.” “Tanya dulu, siapa tau dia gak suka. Kamu harus rajin bertanya tentang dia, Karin.” Kenapa? Karin tidak mau mengikutinya dan hanya diam sambi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 352 Rindu Yang Begitu Berat

    Untungnya Silvi menolak tawaran Diego untuk mengobatinya meskipun ia ingin, Silvi lebih baik fokus ke stasenya daripada memikirkan pria-pria yang mendekatinya.Silvi sedang masak makan malamnya saat teleponnya berdering, itu nomor yang ia tidak kenal.“Siapa ini?” Silvi menggeser tombol hijau untuk mengangkat telpon dari nomor itu. Semoga bukan Papi Karin yang setiap waktu menerornya. “Halo,” ucap Karin dengan senyumnya yang paling manis. Suara yang Silvi kenal dengan sangat jelas. Sahabatnya! “Kariiiiiiinnn, huhuhu kangen banget tau gak,” jawab Silvi sambil menangis. Ia merindukan Karin, stase baru ini sangat melelahkan tanpa Karin. “Kamu dimana, katanya sakit makanya kamu izin. Gak jadi pindah ke London?” tanya Silvi. Sudah ada desas desus tentang penyakit Karin. Kampus memberikan izin Karin untuk berobat dan dengan berat hati, kelulusan Karin pun tertunda, tidak sama seperti temannya yang lain, bisa saja Karin mengulang satu semester karena ini. Tapi Kakek Billy meminta kebi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 351 Mulai Menjauh

    Sudah malam lagi, Arlan sudah lama tidak bicara dengan Karin. Ia hanya terus memandangi potret Karin di ponselnya, bahkan ponsel Karin juga tidak aktif saat ini. Tapi malam ini, Arlan sedang kesal. Ia menyimpan nomor Xavier dan ternyata Xavier mengambil foto berdua dengan Karin, saat ada di Restoran dan hujan salju dari jendela. Karin tersenyum tipis sedangkan Xavier merangkul pinggangnya. “Brengsek!” Memang itu yang diinginkan oleh Kakek Billy, memisahkan Karin dan dia lalu menjodohkannya dengan Xavier. “Kau terlihat sangat cantik disana Sayang,” gumam Arlan memuji kecantikan Karin yang tidak berubah tapi Karin sedikit kurus. Sudah pasti! Bahkan Arlan pun tidak selera makan setelah kepergian Karinnya. Tubuhnya seperti kehilangan gairah. Tiba-tiba Arlan berpikir untuk menghubungi Xavier. Pria ini mungkin sudah tahu hubungan ia dan Karin. Arlan menekan nomor Xavier dan menunggunya mengangkat telepon. “Halo,” ucap Arlan dengan nada dingin. Tidak perlu bersikap baik dengan pria y

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status