Sebelum Rion melangkah ke medan tempur pengadilan, atmosfer apartemen penthouse itu sudah terasa sepanas bara.Silvi baru saja beranjak dari ranjang, hanya berbalut kemeja putih milik Rion yang kedodoran tanpa sehelai benang pun di baliknya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, jemari lentiknya merapikan simpul dasi Rion, meniru gestur seorang istri yang berbakti, meski statusnya tak lebih dari sekadar wanita simpanan paling berharga.Di sudut ruangan, ketegangan lain sedang mengintai. Sintia, sang Asisten Pribadi yang dingin, duduk kaku sambil pura-pura menatap layar tabletnya, meneliti berkas sengketa lahan yang harus dimenangkan Rion hari ini.Namun, sorot matanya yang penuh belati tak bisa menyembunyikan rasa muak.“Aku sudah kirim uang, kenapa lemari kamu masih kosong seperti ini, Sayang?” Suara berat Rion memecah keheningan, matanya menelusuri lekuk tubuh Silvi yang terbungkus kemejanya.Silvi terkekeh, merapatkan tubuhnya hingga tak ada jarak.“Belum sempat ke mall, lagi si
Read more