“Kenapa masih menangis?” suara Arlan memecah keheningan malam lewat panggilan video.Pria itu baru saja menghempaskan tubuh lelahnya ke ranjang. Kemejanya kusut, kancing atasnya terbuka sembarang, dan rambut yang biasa tertata klimis kini berantakan, mencerminkan harinya yang kacau.Namun, begitu matanya menatap layar, rasa lelah itu menguap. Tatapannya terkunci pada Karin, wanita yang tetap terlihat begitu cantik dan rapuh, bahkan dengan air mata yang masih menggenang di sudut kelopak matanya.“Orang tua itu membuatmu menangis lagi?” tanya Arlan, nada suaranya menyelipkan ejekan yang getir untuk Papanya sendiri.Sialan!Ini abad modern, tapi keluarganya masih saja terbelenggu oleh etika kuno yang mencekik. Arlan menghembuskan napas berat, tersenyum pahit pada nasib.Dulu, ia dipaksa masuk ke dalam perjodohan yang ia benci. Sekarang, saat ia telah menemukan belahan jiwanya, mereka justru menjatuhkan larangan keras yang tidak masuk akal.“Aku mau menikah denganmu, dok.” Arlan tertegun.
Read more