Martha menatap Wandra dengan mata yang berbinar, napasnya kini bebas dari beban asma yang selama bertahun-tahun menyiksa. Kamar kos sederhana itu terasa hangat, cahaya lampu meja menerangi wajahnya yang cantik, dada penuhnya naik-turun dengan ritme yang baru, penuh kebebasan. Wandra, pria atletis yang baru saja menyembuhkannya dengan kemampuan penyembuhannya, berdiri di depannya, dan tidak jadi pergiMartha merasa gelombang hasrat membuncah di dadanya, bukan lagi batuk atau sesak, tapi keinginan mendalam untuk merayakan hidup barunya ini. 'Wandra, aku ingin berterima kasih... dengan cara yang spesial,' bisiknya, suaranya lembut tapi penuh tekad. Wandra terkejut saat Martha berlutut di depannya, tangannya gemetar menyentuh ikat pinggang celananya. Senyum menawan Wandra memudar sejenak, digantikan ekspresi campur aduk antara keheranan dan hasrat yang mulai menyala. Martha tersenyum penuh hasrat, bibirnya melengkung nakal saat ia membuka resleting celana Wandra, menariknya turun perl
Dernière mise à jour : 2026-06-03 Read More