Hari-hari berikutnya bergulir dalam ritme yang tenang, namun sedikit tegang. Aluna dengan sangat disiplin memenuhi setiap jengkal kesepakatan mereka. Setiap pagi, ia terjaga sebelum fajar menyapa, menyiapkan keperluan Bara, dan memasak makanan dengan rasa yang selalu sempurna. Sore harinya, ia selalu memastikan diri melangkah melewati gerbang rumah tepat waktu, menutup rapat celah bagi Bara untuk melontarkan dalih hukuman seperti pada malam itu.Namun, kedisiplinan Aluna justru menjadi siksaan baru bagi ego Bara yang setinggi langit. Setiap kali Bara menuntut hak fisiknya di atas ranjang pada sepertiga malam, Aluna tidak lagi memberontak. Wanita itu memberikan tubuhnya secara pasrah, membiarkan Bara memperlakukannya sesuka hati tanpa penolakan berarti. Sialnya bagi Bara, kepasrahan itu terasa begitu kosong. Aluna seperti melepaskan jiwanya dari raga setiap kali mereka bercumbu. Matanya menatap hampa atau terpejam tanpa ada lagi getaran emosi, benci, ataupun amarah yang bia
Read more