Sadar posisinya mulai berada di tengah-tengah urusan pribadi sang atasan, Maya pelan-pelan melangkah mundur. Jemarinya kembali menyambar nampan kosong dengan gerakan sehalus mungkin, tidak ingin memotong kehangatan suasana yang baru saja tercipta. Walaupun lubuk hatinya didera rasa penasaran yang teramat besar mengenai siapa sebenarnya sosok pria rupawan yang baru datang itu, Maya buru-buru menepis rasa penasarannya. Ia sangat menghargai privasi Aluna, wanita yang sudah menganggapnya lebih dari sekadar asisten."Mbak Aluna, kalau begitu saya permisi kembali ke bawah untuk mengecek rekap harian," pamit Maya dengan senyum sopan yang mengembang tulus."Oh, iya, May. Terima kasih tehnya, ya," balas Aluna hangat, mengangguk sekilas mengizinkan.Setelah pintu kayu itu tertutup rapat dan menyisakan keheningan di dalam ruangan kerja, pria jangkung itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi sketsa gaun elegan, lalu beralih me
اقرأ المزيد