Beranda / Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB99. Otak Mesum Bara

Share

RIB99. Otak Mesum Bara

Penulis: Cheezyweeze
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 14:40:25

​Aluna sudah kembali sibuk dengan piringnya sendiri saat tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Wanita itu menoleh, mendapati Bara tengah menyodorkan potongan terong balado lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa banyak bicara, Aluna kembali memegangi pergelangan tangan kokoh Bara dan melahap makanan itu langsung dari jemarinya demi menjaga situasi di depan Mama Kay.

​Damn! umpat Bara dalam hati. Sentuhan basah dari bibir Aluna di ujung jarinya seketika mengirimkan desatan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB105. Janji Temu Dengan Bara

    ​"Halo..." jawab Aluna perlahan, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya.​"Kau masih di rumah, kan?" tanya Bara dari seberang sana, suaranya terdengar menyelidik.​Mendengar pertanyaan itu, Aluna seketika disergap rasa khawatir. Jantungnya berdegup lebih cepat karena ia sedang tidak berada di rumah. Bingung harus menjawab apa tanpa memicu keributan baru, Aluna buru-buru mengalihkan pembicaraan. "K-kenapa, Bar? Kau memerlukan sesuatu?"​"Hm," gumam Bara pendek. "Fileku ketinggalan di atas meja kamar. Tolong antarkan file itu ke kantorku sekarang. Kau bisa, kan?"​Mendengar permintaan yang ternyata hanya soal dokumen, Aluna seketika mengembuskan napas lega karena keberadaannya tidak diinterogasi lebih jauh. "Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu biar aku kirim pakai jasa kirim ojek online saja ya, Bar?" jawab Aluna menawarkan solusi praktis.​"A-apa? Tidak... tidak, jangan!" sambar Bara cepat. Nada bicaranya mendadak berubah drastis, terdengar ada sedikit kepanikan yang coba ia sembunyika

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB104. Curahan Hati Aluna

    Aluna berdiri membisu di depan sebuah batu nisan yang tampak bersih. Tangan rampingnya terulur perlahan, mengusap permukaan batu yang terasa dingin itu dengan lembut. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja selesai mencabuti rumput liar yang sempat meninggi di sekitar pusara. Ada rasa bersalah yang menyelusup di dadanya; sudah beberapa bulan ini ia absen datang karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.​"Bu, maaf ya jika aku lama tidak datang untuk menjenguk Ibu," bisik Aluna. Ia mengulas senyum tipis, namun sedetik kemudian senyum itu berubah getir.​Suasana makam mendadak hening. Hanya terdengar cicit burung liar di kejauhan serta embusan angin yang menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa anak rambut Aluna yang lolos dari jepitan rambutnya. Walaupun tumbuh besar di panti asuhan setelah sang ibu tiada, Aluna beruntung karena ia masih sempat mengenal dan merekam jelas kehangatan serta kenangan dari ibu kandungnya.Walaupun ia tumbuh di panti, namun ia masih mengenal ibunya. Bertemu

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB103. Memanfaatkan Aluna

    Ya, kali ini pasti mereka akan melakukannya di dalam kamar hotel. Aluna sudah tidak perawan lagi. Jadi, jika Aluna melakukannya dengan pria itu kali ini, tentu tidak akan terlihat perbedaannya sama sekali. ​ Pikiran kotor Bara melangkah semakin jauh dan liar. Jangan-jangan, Aluna juga akan menghisap jemari Elrumi dengan sensual, persis seperti apa yang wanita itu lakukan pada jemarinya di atas ranjang tadi malam. Ruangan kantor itu mendadak hening untuk beberapa saat... ​Bara memejamkan matanya erat-erat, ia mendadak teringat kembali bagaimana rasanya. Ingat dengan teramat jelas bagaimana bibir lembut Aluna menyentuh kulit jarinya, dan ingat bagaimana lidah hangat Aluna bergerak perlahan menelusuri telunjuknya. Bara bahkan mengingat dengan sangat detail bagaimana nikmatnya saat bibir lembut itu melingkupi miliknya sepenuhnya sembari mengeluarkan suara desisan pasrah. Rasanya begitu hangat, kenyal, dan ketika Aluna mulai menghisapnya dengan kuat, kenikmatan yang dihantarkan benar-b

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB102. Hanya Makan Siang Saja

    ​"Kau tidak pergi kerja?" tanya Bara dengan dahi berkerut halus sembari menarik kursi kayu mahoni di meja makan. Pria itu sudah bersiap untuk sarapan, akan tetapi ia mendadak heran melihat Aluna masih mengenakan pakaian santai rumah, sama sekali belum bersiap dengan pakaian rapi untuk pergi ke butik seperti biasanya.​"Aku izin libur hari ini," jawab Aluna tenang, sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas di hadapan sang suami.​"Ada acara?" tanya Bara heran, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih sendok.​Aluna tidak menjelaskan panjang lebar, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Menatap respons singkat dari istrinya, Bara seketika menyunggingkan senyum sinis.​"Dengan Elrumi?" tebak Bara langsung, nadanya terdengar tajam sebelum ia mendadak menyibukkan diri secara sepihak dengan sepiring sarapan di depannya, berpura-pura acuh tak acuh.​"Itu..." Aluna sempat menjeda kalimatnya, terdengar ada keraguan yang terselip dari nada su

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB101. Aku Tahu, Kau Menyukainya

    ​Mata Aluna membelalak sempurna dalam kegelapan kamar saat untaian kalimat perintah itu lolos dari bibir Bara. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda penolakan. Sebagai wanita yang masih sangat awam dengan aktivitas intim sejauh itu, membayangkan permintaan gila Bara saja sudah sukses membuat perutnya mual karena rasa syok. Aluna semakin dirayapi kepanikan saat menyadari tubuh kekar Bara mulai merangkak naik, mengungkungnya demi memaksakan kehendak.​"A-aku tidak bisa, Bar..."​"Karena selama satu bulan ini aku hanya boleh melakukan ini denganmu, jadi kau harus melakukan ini untukku!" potong Bara cepat, suaranya memberat penuh tuntutan ego yang egois.​"Bar, tapi aku...."​"Sebentar saja, Aluna!" potong Bara lagi, memangkas kalimat istrinya tanpa ampun. "Kecuali jika kau ternyata suka dan ingin bermain lebih lama lagi," kekeh Bara rendah, sebuah tawa nakal yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aluna.​Aluna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat se

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB100. Gantian Hisap Ini

    ​Suasana di dalam kamar sudah dalam keadaan gelap gulita saat Aluna melangkah masuk dengan perlahan. Siluet tubuh tegap Bara tampak sudah meringkuk di atas ranjang. Aluna merangkak naik dengan gerakan pelan agar tidak mengusik sang suami, lalu berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat samar terpapar sisa cahaya lampu koridor luar.​Mama Kay baru saja menutup panggilan telepon dengannya beberapa menit lalu. Jujur, Aluna tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar suara mama angkatnya yang terdengar begitu bahagia menceritakan kedatangan Bara malam tadi.​"Bar, kau sudah tidur?" tanya Aluna lirih, memecah keheningan malam.​"Sudah," jawab Bara pendek, suaranya terdengar jernih tanpa serak khas orang mengantuk.​Aluna seketika tersenyum tipis, rasa geli menyergap dadanya. Mana ada orang tidur yang masih bisa menyahut dengan ketus sewaktu ditanyai. Aluna memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sembari menghadap ke arah suaminya. Seolah

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB6. Owner House of ELUNA

    "Apa? Mama?" Bara cengo seperti orang bodoh saat mendengar kalimat itu. "Mama ku, Lun?" tanya Bara dengan alis yang menukik tajam. "Hm ...." Sambil mengangguk."Serius?" Bara semakin heran dengan kata-kata itu."Memangnya mamanya siapa lagi? Tidak mungkin kan mama ku!" Aluna membalikkan badannya s

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB5. Itu Karena Mama

    "Aku sudah melakukannya. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik."Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Setelahnya ia keluar dan meraih sesuatu di atas nakas. Tangannya me

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB4. Kesetiaan Bodoh Aluna 🔥

    Bara keluar dari kamar dan menyusul Aluna. Tangan Bara mencekal Aluna. "Sebenarnya apa mau mu?" Aluna menatap mata Bara. "Kau tahu apa yang aku mau ..." Bara mencebik tidak percaya. Pria itu tidak habis pikir dengan isi kepala sang istri. "Buat apa kau meminta itu padaku?" Hening sesaat. S

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB3. Kau Sudah Tidak Perawan

    Aluna diam dan meremas kain yang ia kenakan. Sang suami menyadari. Ia duduk di tepi ranjang, senyumannya berubah menjadi tawa ringan seperti sedang meledek. "Serius? Kau ingin aku tiduri?" Bara terasa geli waktu mengucapkan kalimat itu. Bara menatap Aluna dari ujung rambut ke ujung kaki. Sedangk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status