"Ah, lu bisa aja, Luk," sahut Dayat sambil terkekeh canggung. "Kagak... ini tadi tuh sebenarnya sore-sore Mbak Putri nyuruh gue ke rumahnya. Katanya ada jalur kabel yang mau dirubah, tapi dia minta disuruh liat dulu malam ini. Ya udah, mumpung sempat, gue mampir bentar."Luki menaikkan satu alisnya, lalu melihat ke arah tangan Dayat yang kosong. "Oalah... pantesan lu kagak bawa alat-alat sama sekali dari tadi.""Nah, iya! Kan baru disuruh liat dulu, makanya gue enggak bawa apa-apa," jawab Dayat cepat, merasa agak lega karena umpannya langsung dimakan. Ia mengangguk-angguk meyakinkan.Namun, Luki tidak langsung menyudahi interogasinya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memperhatikan penampilan Dayat dari ujung kaki sampai ujung kepala di bawah cahaya lampu. Mata Luki menyipit saat menyadari sesuatu yang janggal pada rambut Dayat yang tampak klimis dan wajahnya yang terlihat begitu bersih."Tapi tunggu deh, Yat..." Luki menunjuk rambut Dayat dengan dagunya. "Lu liat kabel atau abis
더 보기