"Iya nih, Mbak. Aku baru pulang tadi siang sampai sini," jawab Ajeng ramah sembari mengulurkan tangan, menyalami Cici dengan begitu akrab. Matanya kemudian melirik ke arah ember yang dibawa Cici. "Mbak Cici sendiri habis dari mana?"Cici membetulkan lilitan kain jarit di dadanya yang agak melonggar sebelum menjawab. "Ini lho, Mbak habis dari sungai, mandi sekalian nyuci baju sedikit."Ajeng mengernyitkan dahinya, tampak agak heran. "Lho, kenapa mandi di sungai, Mbak? Tumben banget, biasanya kan di kamar mandi rumah."Cici langsung menghela napas panjang dengan raut wajah lelah. "Duh, Jeng... itu lho, mesin sanyo di rumah mati sudah tiga hari ini. Belum sempat panggil tukang servisan dari pasar, makanya terpaksa mandinya numpang ke sungai dulu.""Oh... begitu," Ajeng mangut-mangut paham.Lensa mata Cici kemudian bergeser, melewati pundak Ajeng dan langsung tertuju pada sosok Dayat yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam gubuk. Senyum penasaran terukir di wajah Cici."Eh, Jeng..
Read more